Foto: istimewa | Tampak Barnabas Suebu, SH., tokoh senior Papua, Wakil Rektor II Universitas Cendrawasih Dr. Ferdinan Risamasu, SE., M.Si., Kapolresta Jayapura Kombes Pol Frederickus Maclarimboen, SIK.,MH., Kakanwil Hukum Anthonius Ayorbaba, SH., M.Si., dan sejumlah perwakilan lainnya disela Seminar Nusantara Sagu Nasional dalam rangkian HUT Bhayangkara ke-80.
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Seruan untuk menjaga hutan sagu sebagai warisan leluhur dan penopang ketahanan pangan Papua mengemuka dalam Seminar Nasional Sagu Nusantara 2026 yang digelar Yayasan Colo Sagu Nusantara bekerja sama dengan Polresta Jayapura Kota di Universitas Cenderawasih (Uncen), Sabtu (20/6).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tersebut mempertemukan akademisi, mahasiswa, tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat dalam satu forum untuk membahas masa depan sagu sebagai sumber pangan berkelanjutan sekaligus simbol identitas budaya Papua.
Tokoh senior Papua, Barnabas Suebu, menjadi salah satu narasumber yang menyita perhatian peserta seminar. Mantan Gubernur Irian Jaya dan Gubernur Papua itu menegaskan bahwa sagu bukan sekadar bahan makanan tradisional, melainkan bagian dari jati diri masyarakat Papua yang telah diwariskan oleh leluhur selama berabad-abad.
“Sagu adalah identitas orang Papua. Kita harus bangga karena Tuhan telah memberikan sagu sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Barnabas.
Menurutnya, keberadaan hutan sagu memiliki arti yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar sumber pangan. Sagu menjadi bagian dari kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga sistem pengetahuan masyarakat adat yang telah terbangun secara turun-temurun.
Barnabas mengaku menjadi salah satu contoh nyata manfaat konsumsi sagu bagi kesehatan. Di usianya yang kini menginjak 80 tahun, ia meyakini pola konsumsi sagu sejak kecil turut berkontribusi menjaga kondisi fisiknya tetap sehat dan aktif.
“Saya tumbuh dengan mengonsumsi sagu. Sampai hari ini saya masih sehat dan bisa beraktivitas. Ini menunjukkan bahwa sagu memiliki manfaat besar bagi kesehatan,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat Papua agar tidak mudah meninggalkan pangan lokal dan menggantinya dengan komoditas lain yang berpotensi menggerus keberadaan hutan sagu. Menurutnya, alih fungsi lahan sagu menjadi ancaman serius yang harus diwaspadai bersama.
“Jangan sampai hutan sagu diganti dengan tanaman lain. Sagu adalah warisan leluhur sekaligus anugerah Tuhan yang harus kita pertahankan,” tegasnya.
Baca juga: Lindungi Kekayaan Alam Papua, Sinar Mas dan UNCEN Satukan Riset Konservasi Burung Cendrawasih
Seminar tersebut dibuka oleh Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinan Risamasu, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, ia menilai sagu memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat Papua di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Selain membahas aspek budaya dan ketahanan pangan, seminar juga mengulas berbagai peluang pengembangan ekonomi berbasis sagu, mulai dari inovasi produk turunan, penguatan usaha masyarakat, hingga strategi pelestarian hutan sagu sebagai penyangga ekosistem yang penting bagi kehidupan masyarakat adat.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Colo Sagu Nusantara dan Polresta Jayapura Kota berharap tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga keberlanjutan hutan sagu sebagai aset berharga Papua.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar sagu tetap lestari dan mampu menjawab tantangan ketahanan pangan di masa depan.
Di tengah semakin besarnya ancaman terhadap lahan sagu, seminar ini menjadi pengingat bahwa menjaga sagu bukan hanya soal mempertahankan sumber pangan, tetapi juga menjaga identitas, budaya, dan masa depan orang Papua.
Laporan: Sony Rumainum

















