Foto: Sony | Tampak Gubernur Elisa Kambu, S.Sos., bersama Pembantu Rektor II Dr. Ferdinand Risamasu,SE.,M.Sc.Agr., juga Dr.Septinus Saa, S.Sos., M.Si., juga Prof. Dr. Agustinus Fatem, MT., bersama Drs. Alfons Sesa, MM., dan Dr. Kristhina Luluporo, S.IP., M.AP., juga para Alumni Fisip lainnya ketika menghadiri giat “Fisip Calling Alumni” bersama ikatan alumni di Gedung Administrasi Manajemen Perkantoran (AMP) Fisip Universitas Cendrawasih Jayapura, Sabtu (8/8).
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Cenderawasih (Uncen) ternyata memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu.
Hal itu disampaikan Elisa ketika menghadiri kegiatan Fisip Calling Alumni yang digelar Fisip Uncen bersama Ikatan Alumni Fisip Uncen di Gedung Administrasi Manajemen Perkantoran (AMP) Fisip Uncen, Jayapura, Sabtu (8/8/2026).
Dalam sesi sharing bertajuk “Kisah Kasih”, Elisa mengajak para mahasiswa, alumni dan civitas akademika mengenang perjalanan panjangnya saat menjadi mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Fisip Uncen.
Di hadapan para peserta, Elisa mengaku bersyukur pernah menjadi bagian dari keluarga besar Fisip Uncen. Menurutnya, pengalaman akademik dan organisasi yang diperolehnya selama berada di kampus tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter dan kemampuan kepemimpinannya.
“Saya beruntung bisa kuliah di Kampus Fisip Uncen. Pengalaman di kampus itulah yang membawa saya menjadi Gubernur saat ini,” kata Elisa.
Perjalanan Elisa menuju pendidikan tinggi tidaklah mudah. Ia berasal dari sebuah kampung di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, dan sejak kecil memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Elisa bahkan mengungkapkan bahwa dirinya merupakan anak yatim. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah mengejar pendidikan.
“Saya ini anak yatim, tetapi puji Tuhan bisa kuliah dan selesai di Fisip Uncen,” ujarnya.
Selama sekitar enam tahun menempuh pendidikan di Fisip Uncen, Elisa tidak hanya berkutat dengan kegiatan akademik. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan yang kemudian menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan baginya.
Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Administrasi Negara, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fisip Uncen hingga Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) Universitas Cenderawasih.
Di luar lingkungan kampus, Elisa juga aktif dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jayapura.
Menurutnya, pengalaman berorganisasi tersebut memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan, komunikasi, pengambilan keputusan dan bagaimana bekerja bersama orang lain.
Bekal tersebut kemudian ia bawa dalam perjalanan kariernya sebagai birokrat hingga terjun ke dunia politik.
Elisa selanjutnya dipercaya menduduki berbagai jabatan pemerintahan, mulai dari Sekretaris Daerah Kabupaten Asmat hingga menjadi Bupati Asmat selama dua periode. Puncaknya, ia terpilih sebagai Gubernur Papua Barat Daya periode 2025–2030.
“Saya ini paripurna di kampus ini, Fisip Uncen. Selain itu, saya juga aktif di GMKI Jayapura. Saya bangga sebagai alumni Fisip Uncen,” ungkapnya.

Pegang Prinsip Kepemimpinan Situasional
Dalam kesempatan tersebut, Elisa juga membagikan prinsip yang selama ini menjadi pegangannya dalam menjalankan berbagai tanggung jawab, baik sebagai birokrat maupun kepala daerah.
Ia menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, terbuka terhadap semua orang dan memahami situasi ketika menjalankan tugas.
“Saya punya prinsip, yakni di mana bumi dipijak, di situ langit harus dijunjung,” katanya.
Elisa juga mengaku menjadikan ilmu yang diperolehnya selama kuliah, khususnya mata kuliah Kepemimpinan Situasional, sebagai salah satu pedoman dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu membaca situasi, memahami lingkungan dan menyesuaikan pendekatan kepemimpinannya dengan kebutuhan masyarakat.
Pada kesempatan itu, Elisa memberikan apresiasi kepada para dosen dan tenaga kependidikan Fisip Uncen, termasuk para alumni yang kembali ke almamater untuk mengajar dan mengabdi.
Ia menilai keberadaan alumni yang tetap memiliki kepedulian terhadap kampus merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda Papua.
“Kita harus ada komitmen bersama untuk kampus ini. Pertama, jangan sampai kita euforia, tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk berkompetisi dengan kampus-kampus lain yang ada di Tanah Papua maupun di Indonesia,” jelasnya.
Baca juga: Aklamasi, Yotam Wonda Nahkodai Ikatan Alumni Fisip Uncen
Ajak Bangun Fisip Uncen Bersama
Elisa mengajak seluruh dosen, alumni dan mahasiswa untuk tidak kehilangan optimisme dalam membangun Fisip Uncen.
Menurutnya, kemajuan kampus tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan atau dosen, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh keluarga besar Fisip Uncen.
“Kita harus tetap optimis. Karena Tuhan pasti menolong kita. Tugas kita, baik dosen, alumni dan mahasiswa adalah bersama-sama membangun kampus ini agar bisa lebih maju ke depan,” tuturnya.
Kegiatan Fisip Calling Alumni tersebut kemudian ditutup dengan foto bersama Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, Dekan Fisip Uncen, civitas akademika dan para alumni.
Bagi Elisa, Fisip Uncen bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar akademik. Kampus tersebut menjadi salah satu ruang penting yang membentuk perjalanan intelektual, organisasi dan kepemimpinannya hingga akhirnya dipercaya memimpin Provinsi Papua Barat Daya.
Laporan: Sonny Rumainum


















