Foto: istimewa | Tampak Dr. Benhur Tomi Mano, MM, Tokoh Papua

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Menjelang berakhirnya Tahun 2025 dan memasuki Tahun Baru 2026, tokoh Papua, Dr. Drs. Benhur Tomi Mano, MM, menyampaikan pesan reflektif yang sarat makna spiritual, kemanusiaan, dan kebangsaan kepada seluruh masyarakat Papua.
Dalam pernyataannya, BTM mengajak masyarakat untuk menjadikan penghujung tahun sebagai ruang kontemplasi bersama sebuah kesempatan manusiawi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menoleh ke belakang, serta memaknai perjalanan panjang yang telah dilalui sepanjang tahun.
Ia menegaskan bahwa refleksi akhir tahun bukanlah ajang untuk menyesali kegagalan, melainkan sarana untuk memahami proses kehidupan dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.

Baca juga: Bangkitkan Sepak Bola Daerah, Asprov PSSI dan Dispora Mambra Gelar Pelatihan Wasit C3
Menurutnya, setiap fase kehidupan menyimpan pelajaran yang membentuk kedewasaan batin manusia.
BTM mengakui bahwa perjalanan hidup tidak selalu berlangsung mulus dan terencana.
Dalam dinamika kehidupan, ada langkah yang ditempuh dengan keyakinan penuh, namun ada pula langkah yang harus dijalani dengan tertatih, diiringi doa dan kesabaran.
“Ada doa yang dikabulkan dengan segera, tetapi ada pula doa yang masih kita simpan dalam kesabaran dan pengharapan,” ungkapnya, Rabu (31/12).

Lebih lanjut, BTM menyampaikan bahwa Tahun 2025 telah mengajarkan satu kebenaran mendasar, bahwa hidup tidak semata-mata diukur dari capaian, keberhasilan, atau kemenangan lahiriah. Hakikat hidup, menurutnya, justru terletak pada keteguhan iman, kekuatan harapan, serta kemampuan untuk tetap mengasihi dalam situasi apa pun.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai luhur yang diajarkan di rumah ibadah seperti kasih, pengampunan, dan pengharapan ke dalam praktik kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut harus terwujud secara nyata dalam relasi keluarga, kehidupan sosial, hingga dinamika bermasyarakat dan berbangsa.
Baca juga: Prestasi Atlet Papua di SEA Games Thailand Diapresiasi Pemprov Papua

Dalam konteks kehidupan sosial Papua yang majemuk, BTM menilai bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan panggilan untuk saling menjaga dan merawat kebersamaan. Menurutnya, persatuan sejati lahir dari sikap saling menghormati dan kesediaan untuk memahami satu sama lain.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk menyongsong Tahun 2026 dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta komitmen bersama untuk terus membangun Papua dalam semangat damai, inklusif, dan berkeadilan.
“Marilah kita melangkah ke tahun yang baru dengan iman yang teguh, harapan yang terpelihara, dan kasih yang terus hidup dalam tindakan nyata,” tutup BTM.
Laporan: Sony Rumainum







