Foto: Irfan | Tampak Mama Doliana Yakadewa, Penanggung jawab stand Distrik Ravenirara, ketika memamerkan salah satu kerajinan ikat kepala berbahan batu giok, Sabtu (29/8) Pantai Khalkote.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Kreativitas masyarakat Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura, bakal menjadi salah satu daya tarik pada puncak Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026. Mengusung kekayaan budaya leluhur, Ravenirara menyiapkan sejumlah produk kerajinan berbahan batu, termasuk mahkota batu dan kalung kasuari yang dipadukan dengan batu.
Produk-produk tersebut dipersiapkan untuk ditampilkan pada puncak FDS XV yang dijadwalkan berlangsung 3-5 September 2026 di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur. Puncak festival ini direncanakan dibuka Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Sebelumnya, rangkaian Pra-event FDS XV telah berlangsung selama lima hari, 25-29 Agustus 2026, dan secara resmi ditutup Bupati Jayapura Yunus Wonda.
Bagi Distrik Ravenirara, Pra-event FDS bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga menjadi ruang untuk menguji kesiapan produk budaya lokal sebelum memasuki panggung utama festival.
Penanggung Jawab Stand Distrik Ravenirara, Doliana Yakadewa, mengatakan keikutsertaan dalam Pra-event memberikan kesempatan kepada para pelaku seni untuk mengevaluasi sekaligus melihat sejauh mana produk mereka mampu bersaing dengan karya dari distrik lainnya.
“Pra-event ini baik sekali, karena menjadi satu langkah untuk mempersiapkan dan juga melihat kesiapan kita guna memasuki puncak event FDS,” kata Doliana Yakadewa saat ditemui di Stand Distrik Ravenirara, kawasan Pantai Khalkote, Sabtu (29/8/2026).
Perempuan yang akrab disapa Mama Doli itu menjelaskan, Pra-event juga menjadi momentum untuk membandingkan kualitas bahan, bentuk maupun kreativitas produk yang ditampilkan.
“Terutama untuk mengukur atau membandingkan materi dan produk kita dengan peserta festival yang lain, apakah ada yang kurang atau lebih, baik dari kualitas bahan maupun hal lain yang berkaitan dengan produk budaya lokal yang kita bawa,” ujarnya.
Batu Jadi Simbol Warisan Leluhur
Mama Doli menuturkan, seni batu yang ditampilkan Ravenirara merupakan bagian dari upaya mempertahankan sekaligus mengembangkan warisan budaya leluhur. Dalam kehidupan masyarakat setempat, batu memiliki nilai historis dan adat yang kuat, termasuk digunakan dalam pembayaran mas kawin maupun denda adat.
“Batu adalah budaya. Dulunya digunakan sebagai alat tukar, kemudian dikembangkan menjadi lambang dan berbagai bentuk kerajinan,” katanya.
Menurutnya, tidak semua batu dapat digunakan untuk menghasilkan kerajinan. Salah satu material yang mendapat perhatian adalah batu giok yang dinilai memiliki karakteristik tertentu untuk diolah menjadi berbagai produk budaya.
Di stand Ravenirara, pengunjung tidak hanya dapat melihat hasil akhir kerajinan, tetapi juga mengenal proses pengolahan batu hingga menjadi produk bernilai seni dan budaya.
Inovasi terbaru yang disiapkan untuk FDS XV adalah mahkota batu dan kalung kasuari berbahan batu. Kedua produk tersebut disebut sebagai karya yang baru pertama kali diperkenalkan Ravenirara dalam ajang FDS.
“Yang berbeda adalah mahkota batu dan kalung kasuari batu. Sebelumnya belum pernah, jadi ini kali pertama kami tampilkan,” ungkap Mama Doli.
Selain mahkota dan kalung kasuari batu, sejumlah produk lain turut dipersiapkan, di antaranya cincin batu, minyak fisio berbahan dasar minyak kelapa, bunga kering, pita rambut, anting serta berbagai jenis kalung.
Dari sisi ekonomi, kerajinan batu juga dinilai memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Mahkota yang dibuat secara penuh menggunakan material batu, misalnya, dapat dipasarkan dengan harga mulai dari sekitar Rp2 juta.
“Kalau yang full batu, mungkin harganya Rp2 juta ke atas,” jelasnya.
Berharap Promosi FDS Lebih Diperkuat
Mama Doli mengakui, hasil penjualan selama Pra-event FDS belum terlalu besar. Meski demikian, kegiatan tersebut tetap memberikan manfaat karena membuka ruang promosi sekaligus menjadi kesempatan bagi pelaku seni untuk melihat respons masyarakat terhadap produk yang mereka hasilkan.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Jayapura dapat memperkuat promosi FDS dengan menghadirkan lebih banyak tamu dan pengunjung, sehingga produk kerajinan masyarakat dari berbagai distrik tidak hanya dipamerkan, tetapi juga memiliki peluang pasar yang lebih luas.
“Kami berharap kepada Pemda Kabupaten Jayapura dalam rangka promosi, mengundang tamu atau orang untuk datang melihat dan membeli apa yang kami siapkan,” harapnya.
Menurut Mama Doli, promosi produk seni dan kerajinan membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan produk kuliner. Jika makanan dapat langsung dinikmati, produk budaya membutuhkan penjelasan mengenai proses pembuatan serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Kalau kuliner bisa cepat, tetapi kami dari seni kreasi tentu mengharapkan selain promosi, bagaimana para undangan yang datang itu bisa melihat dan membeli produk kami,” tuturnya.
Ia menambahkan, Distrik Ravenirara secara konsisten berpartisipasi dalam Festival Danau Sentani setiap tahun. Pada FDS XV kali ini, pihaknya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan mengangkat mahkota batu dan kalung kasuari batu sebagai inovasi kerajinan berbasis budaya lokal.
“Kami aktif setiap tahun ikut event FDS. Untuk kali ini, yang berbeda adalah mahkota batu dan kalung kasuari batu,” pungkasnya.
Laporan: M. Irfan


















