MRP Soroti Ancaman Depopulasi, Dorong Percepatan Pembangunan 10 Kampung Asli Port Numbay

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Sony | Tampak Ketua MPR Papua, Nerlince Wamuar, dan Direktur Papua Analisis Strategis, Dr. Laos Deo Calvin Rumayom, S.Sos., M.Si., disela giat jaring aspirasi 2026, di Horison Hotel, Jumat (28/8). 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Majelis Rakyat Papua (MRP) menaruh perhatian serius terhadap keberlangsungan masyarakat adat Port Numbay di tengah pesatnya perkembangan Kota Jayapura. Salah satu isu yang menjadi sorotan utama adalah ancaman depopulasi masyarakat asli di 10 kampung Port Numbay.

banner 325x300

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Penjaringan Aspirasi Triwulan II Tahun 2026 yang dipimpin Ketua MRP, Nerlince Wamuar Rollo, S.E., M.Pd., di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Papua Analisis Strategis, Dr. Laus Deo Calvin Rumayom, S.Sos., M.Si., dengan mengusung tema besar MRP, “Selamatkan Manusia dan Tanah Papua.”

Pembahasan difokuskan pada sejumlah sektor strategis, meliputi pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, sosial budaya, serta perlindungan lingkungan hidup.

Dr. Laus Rumayom mengatakan, penjaringan aspirasi ini menjadi momentum penting untuk memperbarui data sekaligus memetakan perkembangan dan kebutuhan masyarakat adat yang mendiami 10 kampung asli Port Numbay.

Menurutnya, posisi 10 kampung tersebut sangat strategis karena berada di kawasan perkotaan sekaligus menjadi bagian dari pusat pemerintahan Provinsi Papua.

“Kami menyelenggarakan penjaringan aspirasi ini untuk memperbarui data dan perkembangan masyarakat adat di 10 Kampung Port Numbay yang berada tepat di tengah kota dan pusat pemerintahan Provinsi Papua,” ujar Laus Rumayom.

Baca juga: Tonny Tesar Serap Aspirasi MRP, Lanjutkan Perjuangan Matius Awaitouw, Kawal Perlindungan RUU Masyarakat Adat

Dalam diskusi yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu, masyarakat menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan lapangan kerja, pelayanan kesehatan, kebutuhan pembangunan, hingga keberlangsungan masyarakat adat.

Isu depopulasi menjadi salah satu perhatian utama. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat penanganan serius karena berkaitan dengan keberlangsungan generasi masyarakat asli Port Numbay di masa mendatang.

“Isu depopulasi ini juga berkaitan erat dengan aspek reproduksi. Oleh karena itu, kami menetapkan langkah-langkah strategis ke depan,” tegasnya.

Dari hasil penjaringan aspirasi, sejumlah langkah prioritas kemudian disepakati. Pertama, mendorong pembentukan tim percepatan pembangunan 10 kampung asli Port Numbay.

Kedua, menyusun rencana strategis dan model pembangunan berkelanjutan yang secara khusus disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masyarakat di kampung-kampung tersebut.

Ketiga, menggalakkan gerakan penanaman pohon sekaligus memperkuat perlindungan dan pelestarian lahan serta hutan yang masih tersisa untuk menjaga keseimbangan lingkungan Kota Jayapura.

Laus Rumayom menegaskan, upaya menjaga eksistensi masyarakat adat Port Numbay membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, MRP membuka ruang kolaborasi dengan Universitas Cenderawasih, Papua Analisis Strategis, serta lembaga dan mitra lainnya.

“Kami membuka diri kepada semua pihak untuk ikut berpartisipasi mendukung pelestarian seni, budaya, dan tata kehidupan masyarakat adat, sekaligus menjadikan kawasan ini sebagai kawasan wisata yang berkembang,” katanya.

Selain pembangunan fisik, perhatian juga diarahkan pada penguatan kebijakan yang memberikan perlindungan dan afirmasi bagi orang asli Port Numbay.

Disebutkan, tengah disiapkan Peraturan Daerah khusus yang mengatur kewenangan khusus Kota Jayapura, termasuk aspek pemerintahan, pengelolaan sumber daya alam, dunia usaha, serta perlindungan hak-hak masyarakat adat.

Baca juga: Tambahan Dana Otsus, Gubernur Papua Siap Perkuat: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Infrastruktur hingga Peran Strategis MRP

Pemetaan wilayah hidup masyarakat adat dan penetapan definisi orang asli Port Numbay juga menjadi bagian penting yang akan menjadi dasar dalam penyusunan program dan rencana kerja ke depan.

“Semua itu akan kami terjemahkan ke dalam rencana strategis agar dapat dilaksanakan dengan baik demi kesejahteraan masyarakat adat dan kemajuan Kota Jayapura secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Kegiatan Penjaringan Aspirasi Triwulan II Tahun 2026 tersebut ditutup oleh Ketua MRP, Nerlince Wamuar Rollo. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan pesan kepada para perempuan dan pemuda Port Numbay agar terus mengambil bagian dalam menjaga identitas, budaya, tanah, serta masa depan masyarakat adat di tengah perkembangan Kota Jayapura.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *