Puluhan Tahun Mengabdi, Pdt. E. M. Willem Rumainum Tinggalkan Warisan Iman dan Keteladanan

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak alm Pdt. Willem Rumainum, S.Th., Mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Indonesia (GPI) periode 2003-2018.

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Tangis haru dan doa mengiringi perjalanan terakhir Pdt. E.M. Willem Rumainum, S.Th. Ribuan pelayat memadati rumah duka hingga Gereja GPI Elim Abepura pada Senin (29/6/2026), memberikan penghormatan terakhir kepada sosok pendeta yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya bagi pelayanan gereja dan masyarakat di Tanah Papua.

banner 325x300

Prosesi pelepasan dimulai dari rumah duka di Perumnas IV Padang Bulan, Distrik Heram. Iring-iringan keluarga, para pendeta, tokoh gereja, serta warga jemaat kemudian mengantar jenazah menuju Gereja GPI Elim Abepura untuk mengikuti ibadah pelepasan sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Hitam, Abepura.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga besar Rumainum dan Mansoben, tetapi juga bagi seluruh warga Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Tanah Papua. Di mata banyak orang, Pdt. Willem Rumainum dikenal sebagai hamba Tuhan yang sederhana, rendah hati, penuh kasih, dan memiliki komitmen tinggi dalam menjalankan panggilan pelayanannya.

Lahir di Biak pada 23 Agustus 1958, Pdt. Willem Rumainum merupakan putra sulung dari pasangan almarhum Kornelius Rumainum dan almarhumah Martha Mansoben. Sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara, ia tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga sekaligus menunjukkan panggilan pelayanan sejak usia muda.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari Sekolah Rakyat Urmboridori, kemudian melanjutkan ke SMP YPK Merauke, Sekolah Menengah Teologia GPM Fakfak, mengikuti pendidikan Paket C di Jayapura, hingga menyelesaikan pendidikan teologi di Sekolah Theologia GKI I.S. Kijne Jayapura pada 1991.

Sejak ditahbiskan menjadi pelayan Tuhan, almarhum mengabdikan seluruh hidupnya di lingkungan Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Tanah Papua. Dengan Nomor Induk Pegawai Gereja 109850055 dan pangkat terakhir Golongan IV/B, ia dipercaya melayani di berbagai jemaat serta mengemban sejumlah tanggung jawab strategis di lingkungan Badan Pekerjaan Sinode GPI di Tanah Papua.

Baca juga: Legenda Persipura Metu Dwaramury Tutup Usia, Sehari Sebelumnya Masih Hadir di Stadion Mandala

Selama puluhan tahun menjalankan pelayanan, Pdt. Willem Rumainum dikenal sebagai gembala jemaat yang dekat dengan umat. Ia selalu menempatkan kasih, persaudaraan, dan pembinaan iman sebagai fondasi utama dalam setiap tugas pelayanan yang dijalankannya.

Pengabdian almarhum tidak hanya terbatas di lingkungan gereja

Kepercayaan masyarakat juga mengantarkannya menjadi anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) di Manokwari selama satu periode. Amanah tersebut menjadi bukti bahwa dedikasi, integritas, dan kepemimpinannya diakui, baik dalam pelayanan gerejawi maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.

Dalam kehidupan keluarga, almarhum menikah dengan almarhumah Loisye Catherina Tatilu dan dikaruniai lima orang anak, yakni Dolvina Marike Rumainum, Inna Martha Rumainum, Willy Julians Rumainum, Mauren Lauritha Rumainum, serta Wendy Petrus Rumainum. Dari pernikahan keduanya dengan Rutnianti Monggilatab, almarhum kembali dikaruniai seorang putra, Samuel Keizaro Rumainum.

Pdt. E.M. Willem Rumainum menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 25 Juni 2026, pukul 03.22 WIT di RSUD Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, setelah menjalani perawatan akibat penyakit yang dideritanya. Ia berpulang pada usia 67 tahun, 10 bulan, dan 2 hari.

Dalam ibadah pelepasan, keluarga, para pendeta, tokoh gereja, dan warga jemaat mengenang almarhum sebagai sosok yang setia menjalankan panggilan Tuhan, penuh kasih, rendah hati, serta menjadi teladan bagi generasi penerus pelayan gereja di Tanah Papua.

Sejumlah tokoh gereja hadir memberikan penghormatan terakhir, di antaranya Pdt. Herman Saut, Pdt. Herman Awom, Pdt. Petrus Bonyadone, Pdt. Bas Weyay, S.Th, serta sejumlah pendeta dan tokoh gereja lainnya.

Atas nama seluruh pegawai, pejabat, dan warga jemaat se-GPI di Tanah Papua, disampaikan penghargaan dan rasa terima kasih atas seluruh pengabdian yang telah dipersembahkan almarhum sepanjang hidupnya. Keteladanan, semangat pelayanan, dan kasih yang diwariskannya diyakini akan terus hidup serta menjadi inspirasi bagi para pelayan Tuhan dan generasi muda Papua.

Mewakili keluarga besar Rumainum dan Mansoben, Herman Swom turut menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak apabila selama masa pelayanan almarhum terdapat tutur kata, sikap, maupun tindakan yang kurang berkenan.

“Kami keluarga besar Rumainum dan Mansoben memohon maaf apabila selama pelayanan almarhum terdapat kekurangan atau hal-hal yang tidak berkenan di hati siapa pun. Kiranya semuanya dapat dimaafkan. Kami juga mengucapkan terima kasih atas doa, perhatian, dukungan, dan kasih yang telah diberikan kepada keluarga kami selama masa kedukaan ini,” ujarnya.

Usai ibadah pelepasan, jenazah diantar menuju TPU Tanah Hitam, Abepura, untuk dimakamkan dengan penghormatan terakhir yang dihadiri keluarga, sahabat, rekan pelayanan, serta ratusan warga jemaat.

Kepergian Pdt. E.M. Willem Rumainum memang meninggalkan luka mendalam. Namun, warisan pengabdian, ketulusan melayani, dan kasih yang ditanamkannya selama puluhan tahun akan terus hidup dalam perjalanan Gereja Protestan Indonesia di Tanah Papua. Namanya akan selalu dikenang sebagai seorang hamba Tuhan yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan, pelayanan gereja, dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *