Panitia Konferensi DASS Phuyakha Bergerak, Adakan Pertemuan di Obhe Helebhey Wabhou

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Irfan | Tampak pertemuan sejumlah Panitia Konfrensi Dewan Adat Suku Sentani (DASS) yang berlangsung di Obhe Helebhey Wabhou, Kampung Sereh, Jumat (21/8). 

Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Panitia Konferensi Dewan Adat Suku Sentani (DASS) Phuyakha mulai mematangkan berbagai persiapan menuju pelaksanaan konferensi yang dijadwalkan berlangsung pada 24 September 2026 mendatang.
Persiapan tersebut diawali dengan rapat perdana panitia yang digelar di Obhe Helebhey Wabhou, Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (21/8/2026).

banner 325x300

Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyatukan koordinasi sekaligus menyusun program kerja dan pembagian tugas masing-masing seksi dalam rangka menyukseskan pelaksanaan konferensi.

Rapat tersebut dihadiri para Ondofolo, Khoselo, Abhu Afaa, jajaran panitia, para koordinator seksi serta tokoh masyarakat adat Suku Sentani.

Ketua Panitia Konferensi DASS Phuyakha, Melki Suebu, mengungkapkan rasa syukurnya karena rapat perdana dapat terlaksana dengan baik. Menurutnya, kepanitiaan tersebut terbentuk berdasarkan kepercayaan para Ondofolo Suku Sentani dalam pertemuan adat yang berlangsung pada 24 Juli 2026 di Kampung Hobong.

“Pada tanggal 24 Juli bulan lalu, seluruh Ondofolo mempercayakan enam orang anak-anak Suku Sentani. Mereka mempercayakan kepada kami untuk mempersiapkan terlaksananya Konferensi DASS Phuyakha,” ujar Melki.

Ia menjelaskan, rapat perdana menjadi bagian penting dari tahapan persiapan untuk memastikan seluruh kebutuhan konferensi dapat dipersiapkan secara matang hingga pelaksanaan pada 24 September mendatang.

Melki mengatakan, konferensi tersebut tidak sekadar membahas pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan DASS sejak berdiri pada awal tahun 2000.

Menurutnya, dalam perjalanan hingga 2026, masyarakat adat Suku Sentani belum merasakan perubahan signifikan yang diharapkan. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan penting perlunya dilakukan pembenahan melalui konferensi.

“Sejak Dewan Adat Suku Sentani atau DASS berdiri di awal tahun 2000, dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2026, kami sendiri merasakan seperti tidak terjadi perubahan yang signifikan,” bebernya.

Karena itu, kepengurusan DASS yang baru nantinya diharapkan mampu membawa arah perjuangan yang lebih jelas dalam mempersiapkan masa depan masyarakat adat Suku Sentani, termasuk menjaga keberadaan masyarakat adat di atas tanah dan airnya hingga generasi mendatang.

“Harapannya, melalui kepemimpinan dan kepengurusan DASS yang baru ke depan, kita dapat mempersiapkan masa depan Sentani di atas tanah dan airnya sampai kepada anak cucu kita di masa depan,” katanya.

Selain persoalan kepemimpinan, konferensi juga akan menjadi ruang untuk memperkuat perjuangan terhadap hak-hak masyarakat adat Suku Sentani.

Melki menyebut perjuangan tersebut mencakup hak atas tanah, keberlangsungan adat serta pelestarian budaya Sentani yang dinilai terus mengalami pergeseran seiring perkembangan zaman.

“Termasuk di dalamnya adalah memperjuangkan bagaimana hal-hal adat yang dalam perjalanan dirasa seperti terjadi pergeseran-pergeseran sesuai dengan tradisi,” jelasnya.

Ia berharap konferensi nantinya dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sekaligus meluruskan kembali berbagai persoalan yang berkaitan dengan adat dan budaya berdasarkan warisan leluhur Suku Sentani.

“Kami dapat memperbaiki dan meluruskan kembali sesuai dengan adat dan budaya yang dimiliki leluhur kami secara turun-temurun sampai pada generasi sekarang,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Konferensi DASS Phuyakha, Kristian Epa, memastikan seluruh koordinator seksi telah menerima mandat dan siap menjalankan tugas masing-masing.

Kristian menjelaskan, dirinya dipercaya sebagai sekretaris dan akan bekerja bersama Bendahara Barnabas Nukuboy. Sementara Koordinator Seksi Usaha Dana dipercayakan kepada Ramses Wally, Koordinator Seksi Acara kepada dr. Jhon Manangsang Wally, serta Koordinator Seksi Transportasi dan Akomodasi kepada Esau Kaway.

“Dalam kepanitiaan konferensi ini saya sebagai sekretaris, dibantu oleh bendahara Bapak Barnabas Nukuboy, kemudian koordinator seksi usaha dana Bapak Ramses Wally, koordinator seksi acara Bapak dr. Jhon Manangsang Wally dan koordinator seksi transportasi/akomodasi Bapak Esau Kaway,” jelasnya.

Kristian menambahkan, Konferensi DASS Phuyakha akan mengusung tema “Raibhu, Raiwani dan Raiwali”, yang memiliki makna mendalam mengenai tanah, air dan kehidupan masyarakat adat Suku Sentani.

Menurutnya, tema tersebut menggambarkan hubungan yang tidak terpisahkan antara masyarakat adat Sentani dengan tanah dan air sebagai bagian penting dari kehidupan mereka.

“Tema yang diusung tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan konferensi karena menggambarkan hubungan masyarakat adat Suku Sentani dengan tanah, air dan kehidupan yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberadaan masyarakat adat,” ujarnya.

Ia menegaskan, tema tersebut memiliki makna, “Kami Punya Tanah, Kami Punya Air dan Kami Punya Kehidupan.”

Konferensi DASS Phuyakha yang dijadwalkan berlangsung pada 24 September 2026 diharapkan menjadi momentum konsolidasi masyarakat adat Suku Sentani, sekaligus mengevaluasi perjalanan organisasi, menentukan arah kepemimpinan baru serta memperkuat perjuangan hak adat dan budaya Sentani di masa mendatang.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *