Foto: Irfan | Tampak Yo Ondofolo kampung Babrongko, Ramses Wally ketika memberikan keterangan pers, Kamis (20/8) siang.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Persiapan Festival Danau Sentani (FDS) 2026 mendapat sorotan setelah rapat evaluasi yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura, Rabu (19/8/2026), hanya dihadiri enam dari 19 Kepala Distrik.
Rapat yang dipimpin Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura bersama Asisten II Setda Kabupaten Jayapura tersebut digelar untuk mengevaluasi kesiapan seluruh distrik menjelang pelaksanaan FDS 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25-28 Agustus mendatang.
Ramses Wally, Yo Ondofolo Kampung Babrongko, menyayangkan rendahnya kehadiran para kepala distrik dalam rapat tersebut.
Menurutnya, pertemuan itu penting karena membahas secara langsung jadwal pra-festival hingga pembagian penampilan budaya dari masing-masing distrik.
“Kepala Dinas sudah menyusun jadwal pra-festival dan jadwal distrik-distrik mana yang akan menampilkan tarian budaya.
Tujuannya untuk kroscek kembali agar semua Kepala Distrik dan Kepala Kampung mengetahui langkah-langkah kegiatan,” kata Ramses Wally saat memberikan keterangan di salah satu kafe di Sentani, Kamis (20/8/2026).
Ia mengaku lebih kecewa karena tidak satu pun Kepala Distrik di Wilayah I hadir dalam rapat tersebut. Wilayah I meliputi sejumlah distrik yang berada di sekitar pusat pelaksanaan FDS.
“Yang sangat mengecewakan, Kepala Distrik Wilayah I semua tidak hadir. Mulai dari Sentani Timur, Sentani, Ebungfau, Waibu, semua tidak hadir. Alasannya tidak jelas,” ujarnya.
Ramses menilai ketidakhadiran tersebut patut dipertanyakan karena wilayah-wilayah tersebut memiliki peran strategis dalam menyukseskan FDS 2026.
Menurutnya, kepala distrik seharusnya menjadi pihak yang paling aktif menggerakkan masyarakat dan memastikan kesiapan kampung, kelompok budaya serta masyarakat adat di wilayah masing-masing.
“Fakta membuktikan kepala-kepala distrik dari Wilayah I tidak hadir. Ini menandakan mereka tidak proaktif. Menjadi pertanyaan apakah festival ini bisa berjalan baik atau tidak,” tegasnya.
Soroti Peran Tokoh Adat
Selain kepala distrik, Ramses juga menyoroti peran para tokoh adat dalam mendukung program pemerintah daerah, khususnya pelaksanaan FDS 2026.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Jayapura telah memberikan perhatian kepada para Ondoafi dan tokoh adat melalui pemberian insentif. Karena itu, menurutnya, dukungan terhadap program pemerintah juga harus ditunjukkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pembangunan dan kebudayaan.
“Mereka sudah menikmati dana-dana pemerintah. Sementara kontribusi mereka untuk mendukung program pemerintah ini sangat lemah. Untuk itu saya mohon semua tokoh adat, Ondoafi, Iram, Tekai agar proaktif mendukung dan menyukseskan FDS 2026,” katanya.
Ramses juga menegaskan bahwa FDS harus memberikan ruang yang lebih besar kepada masyarakat lokal Kabupaten Jayapura. Ia mengusulkan keterlibatan masyarakat lokal mencapai 80 persen, sedangkan paguyuban 20 persen.
“Jangan kita menjadi pasif, jangan jadi penonton. Mari kita bergerak semua komponen masyarakat agar FDS 2026 sukses,” ucapnya.
Rapat Kedua Digelar Jumat
Minimnya kehadiran dalam rapat evaluasi tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi. Rapat lanjutan dijadwalkan kembali digelar Jumat untuk memastikan kesiapan distrik, kepala kampung, masyarakat adat dan para tokoh adat.
Ramses berharap seluruh pihak tidak memandang FDS hanya sebagai agenda Pemerintah Kabupaten Jayapura, melainkan sebagai momentum bersama untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi pariwisata daerah.
Apalagi, FDS 2026 ditargetkan masuk dalam kalender wisata nasional dan direncanakan dibuka langsung oleh Wakil Presiden.
“Kalau sukses, berarti sukses kita bersama. Kalau festival gagal, maka itulah kegagalan kita yang kita alami,” pungkasnya.
Laporan: M. Irfan


















