Mahasiswa Paniai di Manokwari Kecewa: Jenazah Rekan Mereka Dipulangkan Tanpa Bantuan Pemerintah

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak para mahasiswa asal Paniai membawa peti jenasah almh. Onalince Bunai di atas Kapal Napan Wainami, Sabtu (22/11).

banner 325x300

Manokwari, jurnalmamberamofoja.com — Mahasiswa asal Kabupaten Paniai di Kota Studi Manokwari menyampaikan protes keras kepada Pemerintah Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah.

Mereka menilai pemerintah daerah telah mengabaikan pemulangan jenazah almarhuma Onalince Bunai, mahasiswi aktif Universitas Papua (UNIPA), Fakultas Kehutanan semester VII.

Kekecewaan itu muncul karena tidak adanya dukungan transportasi dari pemerintah daerah sejak kabar duka diterima pada Kamis, 20 November 2025, hingga Sabtu, 22 November 2025.

Tidak Ada Respon Pemerintah

Para mahasiswa mengaku telah menghubungi sejumlah pihak pemerintah eksekutif dan legislatif Kabupaten Paniai, namun tidak mendapat jawaban atau tindakan apa pun.

“Kami kecewa dan merasa tidak dihargai. Seolah kami tidak punya pemerintah daerah,” ujar perwakilan mahasiswa.

Biaya Pesawat Tak Terjangkau

Mahasiswa sempat berupaya memberangkatkan jenazah melalui jalur udara dari Bandara Rendani menuju Nabire. Namun harga yang ditawarkan maskapai mencapai Rp 70 juta, sehingga opsi tersebut batal dipilih karena tidak sanggup ditanggung.

Dipulangkan Melalui Laut dan Darat

Setelah menunggu tanpa hasil, mahasiswa memutuskan memulangkan jenazah melalui jalur laut menggunakan kapal kecil Napan Wainame dari Pelabuhan Marampa, Manokwari, menuju Wasior, Teluk Wondama. Kapal dijadwalkan tiba Minggu dinihari.

Dari Wasior, perjalanan dilanjutkan melalui darat menggunakan mobil lintas Wasior–Nabire. Jenazah diperkirakan tiba di Kabupaten Nabire pada Senin sore.

Baca juga: Ketua II DPRK Nduga Soroti Kondisi Asrama Mahasiswa: “Prioritas Utama dalam APBD 2026”

Kronologis dan Sumber Dana

Onalince Bunai meninggal pada Kamis, 20 November 2025 pukul 11.12 WIT di Rumah Sakit Provinsi Papua Barat, dan jenazah dibawa ke Asrama Wissel Meren, Amban.

Seluruh biaya pemulangan ditanggung secara swadaya oleh mahasiswa, mama-mama pendoa, sumbangan sukarela mahasiswa UNIPA, Fakultas Kehutanan, serta orang tua Papua Barat yang peduli.

Harapan Mahasiswa

Mahasiswa meminta pemerintah daerah lebih peka dan hadir ketika warganya mengalami duka.

“Jangan ada lagi kejadian seperti ini. Pemerintah harus hadir untuk rakyat, apalagi dalam situasi kehilangan,” tegas mahasiswa.

Laporan: Sony Runainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *