Hidroponik Didorong Jadi Solusi Desa Mandiri dan Tangguh di Prafi Hadapi Perubahan Iklim

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Mander | Suasana penyuluhan dan pelatihan hidroponik yang digelar Tim 11 Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga di Kampung Bowi Subur, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Jumat (4/9).

Manokwari, jurnalmamberamofoja.com – Budidaya hidroponik mulai didorong sebagai salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan desa yang mandiri dan sehat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

banner 325x300

Upaya tersebut dilakukan Tim 11 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) melalui penyuluhan dan pelatihan hidroponik kepada masyarakat Kampung Bowi Subur, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Jumat (4/9).

Ketua Tim 11 TEP Unair, Dr. Corie Indria Prasasti, S.KM., M.Kes., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan teknik bercocok tanam hidroponik yang dapat diterapkan masyarakat, terutama untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah.

Menurutnya, hidroponik menjadi pilihan tepat karena tidak membutuhkan media tanah dan dapat diterapkan pada lahan sempit maupun lahan yang kurang produktif.

“Hidroponik merupakan cara bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah dan dapat memanfaatkan lahan sempit, termasuk pekarangan rumah. Kami melihat metode ini sangat cocok dikembangkan di Kampung Bowi Subur,” ujar Corie di sela-sela kegiatan.

Ia menjelaskan, dibandingkan pertanian konvensional, hidroponik memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam efisiensi penggunaan lahan dan air.

“Metode hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas. Selain itu, penggunaannya lebih efisien dalam air dan memungkinkan tanaman diproduksi lebih cepat serta lebih bersih,” katanya.

Corie berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat diterapkan masyarakat secara mandiri dalam skala rumah tangga.

Antusiasme warga, kata dia, terlihat selama proses penyuluhan hingga praktik penanaman berlangsung. Peserta juga berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari PKK, kader posyandu, dasa wisma hingga generasi muda.

“Kita harapkan warga bisa secara mandiri mengembangkan hidroponik skala rumah tangga. Jika berkembang dengan baik, bukan tidak mungkin nantinya dapat ditingkatkan menjadi usaha komersial untuk menambah pendapatan keluarga,” jelasnya.

Selain mendukung ketahanan pangan keluarga, hidroponik juga dinilai memiliki manfaat edukatif bagi generasi muda. Anak-anak usia sekolah dapat diperkenalkan secara langsung dengan proses bercocok tanam dan pengelolaan pangan melalui teknik sederhana.

Corie menilai, pengembangan hidroponik juga sejalan dengan upaya membangun desa yang sehat dan memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim.

“Dengan teknologi ini, masyarakat dapat menanam sayuran dan buah-buahan tanpa membutuhkan lahan yang luas, sekaligus lebih menghemat penggunaan air dan mengurangi ketergantungan pada pestisida,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan hidroponik bukan hanya berkaitan dengan penyediaan pangan segar dan bergizi, tetapi juga dapat mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

“Melalui pemberdayaan hidroponik dan kolaborasi lintas sektor dengan para pemangku kepentingan, kita berharap desa-desa dapat menjadi lebih mandiri, sehat dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan,” ungkapnya.

Baca juga: Hadapi Perubahan Iklim, TEP Unair Ajak Warga Sumber Boga Bertani Hidroponik

Sementara itu, Kepala Kampung Bowi Subur, Purwadi, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Tim 11 TEP Unair.

Menurutnya, penyuluhan dan praktik langsung yang diberikan telah menambah pengetahuan serta pengalaman masyarakat mengenai pembuatan dan perawatan tanaman hidroponik.

“Dengan kondisi daerah seperti ini, metode sederhana hidroponik yang diperkenalkan Tim 11 TEP Unair diharapkan dapat terus dikembangkan. Kami berharap warga bisa mengikuti dan menerapkannya secara berkelanjutan,” kata Purwadi.

Ia mengatakan, pihak kampung juga memiliki rencana mengembangkan hidroponik yang dipadukan dengan budidaya ikan lele.

Menurutnya, konsep tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh hasil ganda berupa sayuran dan ikan dalam satu sistem budidaya.

“Selain cocok diterapkan di pekarangan rumah, kita bisa panen ganda, yakni sayuran dan ikan lele. Tanaman juga bisa mendapatkan nutrisi dari limbah ikan,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Tim 11 TEP Unair menghadirkan Malahayati, S.Tr.P., penyuluh pertanian dari BPP Prafi, sebagai narasumber.

Laporan: Yamander Yansenem

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *