Dok ist/Pemalangan bandara Kasonaweja, Distrik Mamberamo Tengah, Kab. Mamberamo Raya
Kasonaweja, Jurnal Mamberamo Foja – Seluruh aktivitas penerbangan di Bandara Kasonaweja terhenti pada Senin pagi (28/10) setelah Badan Pekerja Klasis Mamberamo dan para pemimpin agama setempat memblokade akses bandara.
Pemblokiran ini dipicu oleh kekecewaan karena dua pendeta Sinode GKI Papua gagal memperoleh tiket penerbangan dari Sentani menuju Kasonaweja untuk memimpin peringatan 70 tahun masuknya Injil ke Tanah Kawera.
Dua pendeta yang akan berangkat ke Kasonaweja ini dijadwalkan memimpin ibadah dan menjadi pengajar dalam kursus dasar pengasuh di peringatan hari masuknya Injil di Tanah Kawera. Namun, mereka tidak mendapat seat penerbangan, sehingga memicu protes dari Badan Pekerja Klasis Mamberamo yang merasa bahwa gereja dan pemimpinnya tidak mendapat prioritas dalam layanan penerbangan.
Aksi pemalangan ini membuat penerbangan ke dan dari Bandara Kasonaweja tertunda, menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang dan maskapai penerbangan yang sedang menunggu.
“Saya sebagai Ketua Klasis GKI Mamberamo meminta jemaat GKI Efata Kasonaweja bersama seluruh hamba Tuhan untuk melakukan pemblokiran bandara ini,” ungkap Ketua Klasis GKI Mamberamo, Pdt. Marion Mansay, M.Th., di lokasi kejadian.

“Bandara ini merupakan aset gereja, namun selama ini kami tidak pernah diprioritaskan. Hari ini, dua pendeta yang akan memimpin ibadah pun ditolak untuk terbang, sehingga kami merasa harus bersuara.”
Pdt. Marion menambahkan bahwa bandara Kasonaweja serta bandara lain di wilayah Mamberamo, seperti Kapeso dan Dabra, dibangun untuk kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pelayanan jemaat yang memerlukan akses transportasi cepat. Namun, kenyataannya, gereja sering kali kesulitan mendapatkan tiket penerbangan, dan masalah calo tiket di bandara juga memperparah situasi.
“Kami ingin pemerintah daerah dan Dinas Perhubungan tegas menertibkan calo tiket di bandara, terutama yang menjual tiket dengan harga tinggi. Selain itu, kami meminta agar bandara yang merupakan milik gereja ini memberikan kontribusi yang jelas bagi gereja,” tambah Pdt. Marion. Ia juga mengusulkan agar harga tiket subsidi dan reguler ditampilkan di bandara sebagai informasi bagi masyarakat.
Negosiasi antara perwakilan gereja dan aparat keamanan yang dipimpin oleh Kapolsek Mamberamo Tengah, Iptu Isak Kyeuw-Kyeuw, serta Kasat Intel Polres Mamberamo Raya, Iptu Yuan CH. Rumsarwir, SE, akhirnya berbuah kesepakatan.
Bandara kembali dibuka setelah pihak keamanan menjamin bahwa kedua pendeta dari Sinode GKI akan diberangkatkan dari Sentani ke Kasonaweja untuk melanjutkan pelayanan di wilayah Mamberamo Raya.
(NAP)

















