Foto: istimewa | Penyerahan dana hibah sebesar 800 juta oleh Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda, SH., MH., kepada keluarga korban alm. Daud Bano, di Karya Bumi, Grime Jawa, Rabu (23/7).
Sentani, Jurnal Mamberamo Foja – Proses pemindahan jenazah korban konflik sosial yang terjadi di wilayah Grime Nawa berjalan aman dan penuh penghormatan. Jenazah Almarhum Daud Bano, salah satu korban konflik tahun 2024, resmi dipindahkan ke Karya Bukmi, Distrik Grime Nawa, Selasa (23/7), dalam sebuah prosesi adat dan doa bersama yang dihadiri langsung oleh Bupati Jayapura, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H.
Di hadapan tokoh masyarakat, aparat keamanan, dan warga, Bupati menegaskan bahwa perdamaian harus diperjuangkan, bukan sekadar diharapkan.
“Setiap konflik harus diselesaikan dengan cara bermartabat. Tidak ada ruang bagi kekerasan dan balas dendam. Rekonsiliasi adalah jalan satu-satunya,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan pentingnya budaya lokal dalam menyelesaikan setiap persoalan. Ia mendorong pemanfaatan para-para adat sebagai ruang dialog, bukan perpecahan.
“Jangan biarkan luka menganga terlalu lama. Mari kita duduk sebagai satu keluarga Papua, menyelesaikan dengan kepala dingin dan hati yang tulus,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Jayapura menyerahkan dana hibah sebesar Rp800 juta kepada keluarga almarhum sebagai bentuk kehadiran dan tanggung jawab negara.
Dana tersebut bukan sebagai ganti rugi, melainkan simbol tanggung jawab pemerintah terhadap warganya yang terdampak konflik.
“Nyawa tak bisa dibayar. Tapi negara tidak boleh diam. Kita harus hadir, menyembuhkan, dan memperbaiki,” kata Bupati dengan suara tegas.
Kepada keluarga almarhum, Bupati menyampaikan rasa duka dan empatinya. Ia menyebut peristiwa tragis itu tidak diinginkan siapa pun, tapi kini menjadi tanggung jawab bersama untuk diselesaikan secara bermartabat.
“Saya sudah bicara langsung dengan pihak keluarga. Saya minta mereka ikhlas. Peristiwa ini sudah terjadi, dan hari ini kita menyaksikan bahwa penyelesaiannya dilakukan dengan tenang dan damai,” ungkap Wonda.
Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa Distrik Grime Nawa bukan sekadar daerah terdampak konflik, tetapi wilayah strategis yang kaya akan potensi alam.
Ia berkomitmen menjadikan Grime Nawa sebagai prioritas pembangunan, terutama di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Kalau kita ingin swasembada, mulainya dari sini. Tidak ada tempat lain. Wilayah ini harus bangkit,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati memberikan apresiasi kepada semua pihak yang ikut memastikan proses pemindahan jenazah berjalan lancar mulai dari TNI, Polri, SAR, hingga para tokoh adat dan masyarakat.
“Ini bukan kerja satu orang. Ini hasil kolaborasi. Dan ini harus terus dijaga demi kedamaian kita semua,” pungkasnya.
Laporan: M. Irfan | rilis Kominfo

















