Foto: istimewa / Nampak lokasi pesisir kampung Anus, Distrik Bonggo yang terkena Abrasi
Sarmi, Jurnal Mamberamo Foja – Ancaman abrasi yang mulai menggerus pesisir Kampung Anus, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, menjadi perhatian serius jajaran Polsek Bonggo.
Kapolsek Bonggo, Iptu Yustus Maudul, didampingi Wakapolsek Ipda Daud G. A. Pararem, turun langsung ke lokasi terdampak pada Kamis (3/4/2025) untuk meninjau sekaligus berdialog dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Peninjauan ini tidak hanya berfokus pada dampak fisik abrasi, namun juga membuka ruang diskusi partisipatif untuk merumuskan penanganan jangka pendek dan jangka panjang, termasuk pelibatan masyarakat adat dan pemilik hak ulayat.
Dari hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa abrasi telah merusak garis pantai sepanjang 50 meter dengan lebar kerusakan mencapai 7 meter.
Sejumlah tanaman produktif milik warga, seperti pohon mangga dan kelapa, turut rusak akibat tergerus ombak dan aliran sungai yang melewati muara pantai.
Menariknya, dalam diskusi yang digelar di lokasi, muncul usulan untuk tidak hanya fokus pada penanganan teknis, tetapi juga mengedepankan pendekatan budaya.
Kapolsek menyampaikan bahwa pihaknya bersama masyarakat bersepakat mengundang keluarga Burdames dari Kampung Ansudu—sebagai pemilik hak ulayat—untuk turut serta dalam pembahasan solusi.
“Kami mendorong pendekatan kolaboratif, tidak hanya teknis tetapi juga kultural. Salah satunya dengan melaksanakan ritual adat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai lokal yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Iptu Yustus.
Langkah strategis lainnya termasuk rencana normalisasi aliran sungai yang bermuara di wilayah pantai, guna mencegah abrasi susulan yang berpotensi mengancam permukiman dan sumber daya lokal.
Kapolsek juga memastikan bahwa pertemuan lanjutan akan segera dilakukan bersama pemerintah kampung, tokoh adat, dan unsur pimpinan distrik (Uspidis Bonggo) untuk menyusun langkah konkret dan menyeluruh.
Dari kasus ini, pelajaran penting yang bisa dipetik adalah pentingnya penanganan bencana lingkungan berbasis partisipasi dan kearifan lokal.
Masyarakat bukan sekadar korban, tetapi juga aktor utama yang punya pengetahuan dan peran besar dalam merawat lingkungannya.
Laporan: Sony RM

















