Tak Sekedar Roket, Proyek Antariksa Biak Diyakini Dongkrak Ekonomi dan SDM Papua

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak terminal peluncuran Roket luar angkasa yang milik negara yang rencana akan segera di bangun di Kabupaten Biak numfor. 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Rencana pembangunan terminal peluncuran roket dan pesawat ulang alik di Kabupaten Biak Numfor dinilai sebagai peluang besar yang dapat membawa Papua memasuki era baru pembangunan berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan.

banner 325x300

Dengan letaknya yang berada di dekat garis khatulistiwa, Biak memiliki keunggulan geografis yang menjadikannya salah satu lokasi paling ideal di Indonesia untuk pengembangan pelabuhan antariksa.

Kondisi tersebut memungkinkan peluncuran roket dilakukan lebih efisien karena memanfaatkan kecepatan rotasi bumi, sehingga kebutuhan bahan bakar dapat ditekan dan biaya operasional menjadi lebih rendah.

Keunggulan ini menempatkan Biak sejajar dengan sejumlah lokasi strategis dunia yang digunakan sebagai pusat peluncuran satelit dan misi antariksa.

Jika proyek tersebut terealisasi, Indonesiaberpeluang
memperkuat kemandirian di sektor antariksa sekaligus meningkatkan daya saing dalam industri teknologi global yang terus berkembang.

Tak hanya berdampak pada kemajuan teknologi nasional, pembangunan pelabuhan antariksa juga diyakini akan memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat Papua, khususnya Kabupaten Biak Numfor.

Selama tahap konstruksi hingga operasional, proyek ini diperkirakan membutuhkan ribuan tenaga kerja dari berbagai bidang, mulai dari konstruksi, transportasi, keamanan, administrasi hingga sektor teknologi dan teknik.

Kehadiran investasi berskala besar tersebut juga diyakini mampu menggerakkan roda perekonomian daerah melalui pertumbuhan sektor perhotelan, transportasi, perdagangan, restoran hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Baca juga: MRP Soroti Sikap Bupati Biak, Pembangunan Batalion 858 Tetap Jalan di Tengah Sengketa Tanah Adat

Selain membuka lapangan kerja, proyek ini juga berpotensi mempercepat pembangunan infrastruktur penunjang seperti jalan, pelabuhan, jaringan telekomunikasi, listrik, fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Lebih jauh lagi, keberadaan pusat peluncuran roket di Papua diyakini dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM), sehingga mampu bersaing dalam dunia kerja modern yang semakin berbasis teknologi.

Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar pembangunan dilakukan secara hati-hati dengan tetap mengedepankan perlindungan hak-hak masyarakat adat serta menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Keterlibatan masyarakat pemilik hak ulayat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek dinilai menjadi syarat penting agar pembangunan berjalan tanpa menimbulkan konflik sosial di kemudian hari.

Selain itu, kajian lingkungan yang komprehensif juga diperlukan untuk memastikan aktivitas pembangunan tidak mengganggu ekosistem hutan, pesisir maupun wilayah laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.

Salah satu putra asli Biak Numfor, Wempy Mozes Jarangga, menilai proyek tersebut dapat menjadi momentum kebangkitan daerah yang selama ini memiliki potensi besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurutnya, Biak memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Namun hingga saat ini, potensi tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara optimal.

“Biak memiliki kekayaan alam yang besar dan sumber daya manusia yang hebat. Tetapi perputaran ekonomi masih belum berkembang sesuai harapan. Ini yang selama ini dirasakan masyarakat,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler.

Wempy yang berasal dari Keret Jarangga juga mengingatkan bahwa Biak pernah memiliki posisi strategis dalam jaringan penerbangan internasional melalui Bandara Mokmer yang kini dikenal sebagai Bandara Frans Kaisiepo.

“Biak memiliki sejarah besar. Dulu Bandara Mokmer menjadi salah satu jalur penerbangan internasional yang menghubungkan Biak dengan Honolulu dan dikenal dunia internasional,” katanya.

Baca juga: Bom Perang Dunia II Kembali Meledak di Biak, Ancaman Mematikan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Karena itu, ia mengajak para Mananwir, tokoh adat, dan seluruh masyarakat Biak untuk melihat rencana pembangunan tersebut secara objektif dengan mempertimbangkan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.

“Kita perlu melihat peluang ini dari sisi positif. Jika dikelola dengan baik dan masyarakat adat dilibatkan secara penuh, manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” tuturnya.

Ia juga mendorong generasi muda Papua, khususnya mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di berbagai daerah, agar mempersiapkan diri menghadapi peluang baru yang akan hadir apabila proyek tersebut benar-benar terwujud.

“Anak-anak muda Papua harus melihat ini sebagai kesempatan. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka bisa menjadi bagian dari pembangunan dan berkontribusi langsung dalam proyek strategis tersebut,” ujarnya.

Tampak Wempy M. Jarangga
Tampak Wempy M. Jarangga

Menurut Wempy, keterlibatan tokoh-tokoh Papua dalam pembahasan proyek ini menunjukkan bahwa putra-putri terbaik Papua masih mendapat kepercayaan untuk ikut menentukan arah pembangunan daerah dan bangsa.

Pengamat pembangunan menilai keberhasilan proyek pelabuhan antariksa Biak nantinya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat lokal memperoleh manfaat nyata dari pembangunan tersebut.

Apabila masyarakat adat memperoleh ruang partisipasi, kesempatan kerja, akses pendidikan serta manfaat ekonomi yang adil, maka terminal peluncuran roket dan pesawat ulang alik di Biak berpotensi menjadi salah satu motor penggerak pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.

Dengan dukungan berbagai pihak serta posisi geografis yang strategis, proyek ini diharapkan mampu menjadi tonggak baru kemajuan Indonesia di bidang antariksa sekaligus membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua di masa depan.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *