Rupiah Tertekan Hebat, Dolar AS Nyaris Tembus Rp18.000

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak mata uang dollar Amerika dan juga seratus ribuan rupiah. 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat dan diproyeksikan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.

banner 325x300

Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang terus membebani pasar keuangan Indonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga sikap agresif bank sentral AS membuat dolar kembali perkasa terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

Berdasarkan data Google Finance, rupiah pada perdagangan offshore ditutup melemah 0,46 persen ke posisi Rp17.865 per dolar AS. Bahkan, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.902 pada awal perdagangan.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah semakin besar setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat terhadap instalasi di Iran disebut memicu kekhawatiran pasar global dan mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini membuat dolar AS kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Menurut Ibrahim, situasi tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak WTI bahkan disebut mendekati US$96 per barel akibat kekhawatiran terganggunya distribusi energi di kawasan Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak itu dinilai berdampak langsung terhadap Indonesia yang masih bergantung pada impor energi. Permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor meningkat dan pada akhirnya semakin menekan nilai tukar rupiah.

Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga dinilai memperparah pelemahan rupiah. Tingginya impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, perpindahan dana masyarakat ke aset dolar AS, hingga kewajiban utang pemerintah dan korporasi yang jatuh tempo disebut menjadi pemicu tambahan.

Ibrahim juga menyoroti derasnya arus modal asing keluar dari pasar domestik, terutama selama periode libur panjang. Di sisi lain, ruang intervensi Bank Indonesia dinilai terbatas di tengah tekanan pasar yang cukup besar.

“Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS,” katanya.

Baca juga: Emas Pegadaian Hari Ini Turun, UBS Anjlok Rp34 Ribu, Cek Harga!

Sentimen negatif lainnya datang dari arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed. Pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang masih menyoroti risiko inflasi memunculkan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut memperkuat indeks dolar AS sekaligus mempersempit peluang penguatan mata uang negara berkembang.

Meski begitu, harapan penguatan rupiah masih terbuka. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai rupiah berpotensi rebound apabila koordinasi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah berjalan solid.

Ia memperkirakan rupiah masih memiliki peluang menguat kembali ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS apabila bauran kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia lebih sinkron.

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” ujarnya.

Fakhrul menegaskan stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan Bank Indonesia semata. Menurutnya, diperlukan keseimbangan antara kebijakan fiskal pemerintah dan langkah moneter BI agar kepercayaan pasar dapat kembali pulih.

Laporan: Roy Hamadi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *