Foto: Sony | Tampak Desy Pola Usmani, S.S.,M.Sos., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Papua ketika membuka Sosialisasi program bantuan dana Indonesia Raya, Selasa (12/5) berlangsung di Aula Balai Kebudayaan Waena.
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Papua bersama Tim Loring dari Jakarta menggelar sosialisasi program bantuan dana “Indonesia Raya” bagi para seniman, budayawan, pelaku ekonomi kreatif, hingga sanggar seni di Kota Jayapura, Selasa (12/05/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Papua, Waena, Distrik Heram, itu dihadiri puluhan pelaku seni budaya dari berbagai komunitas di Kota Jayapura. Sosialisasi dilaksanakan sejak pagi hingga siang dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari
Kementerian Kebudayaan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat penjelasan terkait mekanisme pendaftaran, syarat pengajuan proposal, hingga proses penyaluran bantuan dana bagi para pelaku seni dan budaya di Papua.
Meski panitia menargetkan sekitar 150 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, jumlah peserta yang mengikuti sosialisasi tercatat belum mencapai target dan hanya dihadiri kurang dari seratus orang penerima manfaat.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Papua, Desy Polla Usmani menjelaskan, program bantuan tersebut merupakan pengembangan dari program Dana Indonesiana yang kini hadir dengan konsep baru melalui program “Indonesia Raya”.

Baca juga: Pelatihan Mahkota Khas Papua: Sanggar Kaimoni Abepura, Merangkai Identitas, Merawat Warisan
Menurutnya, bantuan dana itu diperuntukkan bagi para seniman, budayawan, komunitas seni, sanggar budaya, hingga pelaku usaha kreatif yang bergerak di bidang pelestarian budaya lokal Papua.
“Program ini terbuka bagi para pelaku seni dan budaya yang memiliki ide kreatif untuk mengembangkan budaya Papua. Proposal yang diajukan bisa berupa festival budaya, workshop kuliner khas Papua, pertunjukan adat, pembuatan batik Papua, pelatihan kerajinan tifa, hingga produksi aksesoris budaya,” ujarnya kepada wartawan.
Ia mengatakan, sumber pendanaan program tersebut berasal dari LPDP, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sementara pelaksanaan teknis kegiatan ditangani langsung oleh tim dari Jakarta.
“Kami di Papua hanya membantu memfasilitasi tempat kegiatan. Untuk peserta disediakan konsumsi, namun tidak ada biaya transportasi,” jelasnya.
Desy juga menyampaikan bahwa sejumlah peserta yang tidak sempat hadir telah menyampaikan izin kepada panitia melalui pesan WhatsApp. Meski demikian, pihaknya tetap akan membagikan tautan materi sosialisasi agar peserta yang berhalangan hadir tetap dapat memahami mekanisme program bantuan tersebut.
Sementara itu, staf Kementerian Kebudayaan RI, Abby Abdul Malik, menjelaskan bahwa proses pendaftaran bantuan dana “Indonesia Raya” dapat dilakukan secara daring, baik untuk peserta perorangan maupun komunitas seni dan budaya.
Ia mengimbau para pelaku seni di Papua segera melakukan pendaftaran karena batas pengajuan proposal hanya dibuka hingga 25 Mei 2026.
“Kami berharap para seniman, budayawan, komunitas seni, dan sanggar budaya di Papua segera memanfaatkan kesempatan ini karena waktu pendaftaran tinggal beberapa minggu lagi,” katanya.
Menurut Abby, peserta cukup menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk melakukan pendaftaran. Dalam proposal, peserta diminta menjelaskan jenis kegiatan budaya yang akan dilaksanakan, mulai dari festival budaya, pelatihan seni tradisional, pertunjukan adat, hingga pengembangan produk budaya lokal Papua.
Program bantuan dana “Indonesia Raya” diharapkan menjadi ruang bagi para pelaku seni dan budaya di Papua untuk terus berkarya sekaligus menjaga warisan budaya daerah di tengah perkembangan zaman modern.
Kegiatan sosialisasi tersebut dibuka dan ditutup langsung oleh Kepala BPK Papua, Desy Polla Usmani, kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama seluruh peserta.
Laporan: Sonny Rumainum

















