“Di Balik Kuasa dan Jabatan, Bahlil Tetap ‘Orang Kampung’: Kisah Kesederhanaan yang Tak Pernah Luntur”

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Nampak Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM RI

Penulis: Lamadi de Lamato
Direktur Eksekutif Abuleke Institute

banner 325x300

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Di tengah gemerlap kekuasaan dan jabatan tinggi negara, ada satu hal yang justru makin jarang terlihat: kesederhanaan. Namun, hal itu justru melekat kuat pada sosok Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

Bagi sebagian orang, semakin tinggi posisi, semakin besar pula dorongan untuk menunjukkan kemewahan. Tapi tidak demikian dengan Bahlil. Selama lebih dari dua dekade mengenalnya, penulis melihat satu benang merah yang tak pernah putus: hidup sederhana bukan sekadar citra, melainkan karakter.

Pengalaman itu semakin terasa ketika duduk satu meja makan di kediaman Bahlil. Tidak ada kemewahan berlebihan. Menu yang tersaji justru sederhana: ikan asin, bacang khas Fakfak, hingga hidangan kampung seperti ikan bakar dan umbi-umbian. Suasana makan pun hangat, penuh canda bersama anak dan istri jauh dari kesan formal seorang pejabat tinggi negara.

Baca juga: Saat Dunia Bergejolak, Bahlil Tahan Harga BBM: Strategi Senyap Menuju Kedaulatan Energi

Meja makan itu bukan hanya tempat menyantap hidangan, tetapi juga ruang membangun kedekatan keluarga. Sebuah potret yang kontras dengan jabatan strategis yang ia emban Menteri ESDM, Ketua Harian Dewan Energi Nasional, hingga Ketua Umum Partai Golkar.

Kesederhanaan itu bukan hal baru. Jauh sebelum dikenal luas, Bahlil sudah menunjukkan karakter tersebut. Tahun 2003, saat masih aktif sebagai aktivis, ia terlihat seperti pemuda biasa. Namun di balik itu, ia ternyata memimpin sebuah perusahaan besar di Papua.

“Penampilan boleh sederhana, tapi kapasitas tak bisa diremehkan,” begitu kesan yang muncul saat itu.
Karakter lain yang menonjol adalah loyalitas dan ingatan kuat terhadap masa lalu. Bahlil dikenal sebagai pribadi yang tidak melupakan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidupnya. Dalam banyak cerita yang dihimpun dari berbagai sumber mulai dari dosen, teman kuliah, hingga tokoh Papua, ia digambarkan sebagai sosok pekerja keras, tegas, dan setia.

Sifat ini mengingatkan pada kisah tokoh-tokoh dunia seperti Bill Gates yang tetap mengingat kebaikan kecil dari masa lalunya. Bagi Bahlil, prinsip “tidak lupa asal-usul” bukan sekadar pepatah, tetapi nilai hidup yang terus dijaga.

Kepribadiannya pun terbilang unik. Ia tegas, bahkan bisa terlihat keras dalam situasi tertentu. Namun di sisi lain, ia juga pemaaf. Pernah dalam satu perjalanan, ia tersinggung oleh ucapan penulis hingga meminta turun dari mobil. Namun di kesempatan lain, ia bisa duduk satu meja bahkan dengan orang yang pernah berseberangan dengannya.

Di situlah letak keseimbangannya: tegas tanpa kehilangan sisi manusiawi.

Bagi penulis, Bahlil adalah contoh nyata sosok yang “selesai dengan dirinya sendiri.” Ia tidak lagi sibuk mengejar pengakuan, pujian, atau bahkan terganggu oleh kritik. Fokusnya sederhana: memberi makna, bertanggung jawab, dan meninggalkan jejak yang berdampak.

Kisah ini bukan sekadar tentang seorang pejabat, melainkan tentang nilai hidup. Bahwa di tengah dunia yang gemar pamer, kesederhanaan justru menjadi kekuatan yang paling langka.

Dan dari seorang Bahlil, pelajaran itu datang dari kampung lalu bertahan hingga puncak kekuasaan.

Laporan: Andre Fonataba

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *