A.H. Nasution: Jenderal Besar yang Bertahan di Tengah Peluru dan Kekuasaan

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak jenderal Abdul Haris Nasution

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Nama Abdul Haris Nasution tak pernah lepas dari sejarah panjang militer dan politik Indonesia. Lahir di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 3 Desember 1918, sosok yang akrab disapa Pak Nas ini dikenal sebagai salah satu arsitek utama strategi pertahanan negara sekaligus pemikir militer paling berpengaruh setelah Sudirman.

banner 325x300

Ia bukan hanya prajurit, tetapi juga intelektual militer. Nasution menjadi satu dari segelintir tokoh yang dianugerahi pangkat Jenderal Besar level tertinggi dalam struktur militer Indonesia.

Kariernya tidak dimulai dari barak, melainkan dari ruang kelas. Sebelum mengangkat senjata, Nasution adalah seorang guru. Namun panggilan sejarah membawanya masuk ke dunia militer. Ia sempat mengenyam pendidikan di KNIL pada masa kolonial, lalu bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Baca juga: Wakil Presiden Gibran Pimpin Upacara Hari Pahlawan di Kalibata: “Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu”

Namanya melesat saat dipercaya memimpin Divisi Siliwangi. Dalam tekanan agresi militer Belanda, ia menggagas strategi perang gerilya yang kemudian menjadi rujukan klasik, termasuk saat memimpin Long March Siliwangi sebuah manuver militer besar yang mengukuhkan reputasinya sebagai ahli strategi.

Namun perjalanan hidupnya tidak hanya dipenuhi kemenangan. Dalam tragedi Gerakan 30 September 1965, Nasution menjadi target utama penculikan. Ia berhasil lolos secara dramatis, tetapi kehilangan putri tercintanya, Ade Irma Suryani Nasution, serta ajudannya Pierre Tendean. Peristiwa ini menjadi luka pribadi sekaligus titik balik dalam dinamika politik nasional.

Pasca tragedi itu, Nasution tampil sebagai figur kunci. Ia menjabat Ketua MPRS dan berperan dalam proses politik yang mengantarkan Soeharto ke tampuk kekuasaan.

Di balik kiprah militernya, Nasution adalah seorang pemikir. Karyanya, Pokok-Pokok Gerilya, menjadi referensi penting di berbagai akademi militer dunia. Ia juga menggagas konsep “Jalan Tengah” yang kemudian dikenal sebagai Dwifungsi ABRI sebuah ide tentang peran militer dalam ranah sosial dan politik.

Namun sejarah mencatat ironi. Sosok yang turut membuka jalan bagi Orde Baru itu justru menjadi pengkritik tajam kekuasaan. Melalui Petisi 50, Nasution berdiri di garis oposisi terhadap pemerintahan Soeharto, sebuah sikap yang membuatnya terpinggirkan secara politik selama bertahun-tahun.

Nasution wafat pada 6 September 2000 di Jakarta.
Ia meninggalkan warisan besar: doktrin pertahanan rakyat semesta dan teladan tentang keberanian menjaga prinsip, bahkan ketika harus berhadapan dengan kekuasaan yang pernah ia bantu bangun.

Dalam ingatan sejarah, Nasution bukan sekadar jenderal. Ia adalah simbol konsistensi tetap tegak, baik di medan perang maupun dalam pusaran politik.

Laporan: Sony Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *