Foto: Irfan | Tampak Bupati Jayapura Dr Yunus Wonda,SH.,MH., didampingi wabup Haris Richard S. Yocku, SH bersama sejumlah pejabat lainnya ketika mengikuti kegiatan di Pantai Amai, beberapa waktu lalu.

Sentani, jurnalmamberamofoja.com — Ancaman abrasi di wilayah pesisir Kabupaten Jayapura kian mengkhawatirkan. Gelombang laut yang terus menghantam dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan mulai mengikis garis pantai hingga mengakibatkan Abrasi kian endekati permukiman warga.
Bupati Jayapura, Dr. Yunus Wonda, memastikan akan turun langsung ke sejumlah titik terdampak dalam waktu dekat untuk melihat kondisi riil di lapangan.
“Gelombang besar ini hampir mengikis pantai dan rumah warga. Dalam satu sampai dua hari ke depan saya akan turun langsung,” tegas bupati usai memimpin rapat bersama wakil bupati, Sekda, Asisten beserta seluruh pimpinan OPD lainnya di Grand Cartenz Hotel Sentani, Kamis (26/3).
Direncanakan kunjungan tersebut tidak sekadar peninjauan, tetapi juga bagian dari langkah strategis pemerintah daerah dalam memetakan persoalan secara langsung atau yang ia sebut sebagai “belanja masalah”.
Menurut Wonda, hasil dari kunjungan lapangan itu akan menjadi dasar dalam penyusunan program pembangunan ke depan, termasuk usulan yang akan didorong ke pemerintah pusat pada tahun 2027.
“Kita harus lihat langsung kondisi masyarakat. Dari situ kita tahu apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang harus kita perjuangkan ke pusat,” ujarnya.
Selain ancaman abrasi, pemerintah daerah juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir di wilayah perkotaan. Curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir dinilai berisiko memicu genangan hingga banjir.
Bupati yang juga ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua inipun mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat saluran air.
“Jangan buang sampah di selokan, parit, atau sungai. Dampaknya bukan hanya ke diri sendiri, tapi ke banyak orang,” katanya.
Ia juga menyoroti aktivitas pembukaan lahan di daerah pegunungan yang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan memicu bencana.
“Jangan sampai kejadian seperti 2019 terulang. Kita semua punya tanggung jawab menjaga lingkungan,” tandasnya.
Laporan: M. Irfan

















