Tak Ada Natal Seremonial, DPR Papua Pilih Salurkan Anggaran untuk Rakyat

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Dr. Juliana Waromi, SE., M.Si., Sekretaris DPR Papua. 

banner 325x300

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Pembatalan Perayaan Natal Bersama oleh DPR Papua dinilai sebagai keputusan yang sarat makna kemanusiaan. Alih-alih menggelar kegiatan seremonial, lembaga legislatif daerah itu memilih mengarahkan anggaran untuk kepentingan rakyat yang lebih mendesak.

Sejumlah elemen masyarakat menilai langkah tersebut mencerminkan empati dan keberanian politik di tengah situasi sosial yang masih penuh tantangan. Natal, menurut mereka, tidak kehilangan makna meski tanpa perayaan bersama berskala besar.

Umat Kristiani di Tanah Tabi, Saireri, dan tujuh wilayah adat Papua tetap menjalankan ibadah Natal secara khusyuk di gereja masing-masing. Tradisi iman dan kebersamaan tetap terjaga tanpa harus bergantung pada agenda formal pemerintah.

“Makna Natal justru hadir ketika kepedulian diwujudkan dalam tindakan nyata bagi sesama,” ungkap salah satu tokoh masyarakat kepada media.

Baca juga: Usai Natal, Gubernur Minta Pengurus IKBA Papua Lengkapi Administrasi Organisasi

Pengalihan anggaran dinilai relevan mengingat masih banyak warga negara di Sumatra yang terdampak bencana alam, kesulitan ekonomi, serta keterbatasan akses layanan dasar. Kondisi tersebut menuntut respons nyata dari para pemangku kebijakan.

Sekretaris Dewan (Sekwan) DPR Papua, Juliana D. Waromi, menyampaikan bahwa DPR Papua mempertimbangkan situasi riil masyarakat sebelum mengambil keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa kepentingan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.

Pernyataan itu disampaikan Juliana kepada awak media di Jayapura, Senin (15/12). Menurutnya, langkah ini juga sejalan dengan semangat efisiensi anggaran nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.

Di tengah besarnya Dana Otonomi Khusus Papua, DPR Papua dinilai telah memberi contoh bahwa anggaran publik semestinya digunakan secara bijak dan tepat sasaran.

Keputusan pembatalan Natal Bersama ini menjadi pesan moral bahwa perayaan iman seharusnya melahirkan solidaritas, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada mereka yang paling membutuhkan.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *