Foto: istimewa | Tampak Yanni, SH., M.Sos., Anggota. KEPP Otsus Papua sedang berdiskusi dengan sejumlah warga, ketika meninjau langsung tempat terjadinya ledakan Bom, di Biak Kota, Rabu (1/7).
Biak Numfor, jurnalmamberamofoja.com – Tragedi ledakan bom yang merenggut sedikitnya enam nyawa warga di Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, mendorong Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Yanni, mengusulkan pembentukan program terpadu bertajuk “Papua Aman dari Warisan Perang“.
Usulan tersebut disampaikan Yanni saat meninjau langsung lokasi ledakan, Rabu (1/7/2026). Dalam kunjungan itu, ia didampingi Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Biak, Alvin Maniagasi, serta Ketua DPC Partai Gerindra Kota Jayapura yang juga Anggota DPR Papua Komisi II, Yohanes Wakum.
Rombongan turut mengunjungi keluarga korban untuk menyampaikan belasungkawa dan menyerahkan bantuan. Selain itu, Yanni melihat secara langsung kondisi permukiman yang terdampak serta mendengarkan penjelasan dari pemerintah daerah dan aparat keamanan mengenai proses penyisiran yang masih berlangsung di sekitar lokasi.
Menurut Yanni, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa sisa-sisa amunisi Perang Dunia II masih menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat Papua, khususnya di wilayah Biak yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu medan pertempuran terbesar di kawasan Pasifik.
“Perang Dunia II memang telah berakhir lebih dari 80 tahun lalu, tetapi peninggalannya masih tersimpan di dalam tanah, kawasan pesisir, bahkan dekat permukiman warga. Kondisi ini tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan biasa. Harus ada langkah yang lebih sistematis agar tragedi serupa tidak kembali terjadi,” ujar Yanni.
Ia menjelaskan bahwa pada tahun 1944, Biak menjadi salah satu titik pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dan Jepang. Ribuan granat, mortir, bom udara, hingga berbagai jenis amunisi digunakan dalam operasi militer saat itu. Sebagian di antaranya diduga masih tertinggal dan belum berhasil dievakuasi hingga sekarang.

Baca juga: Apresiasi Terobosan Bupati Biak, Yanni Nilai Pariwisata Jadi Kunci Kemajuan Daerah
Karena itu, Yanni mengusulkan Program “Papua Aman dari Warisan Perang” sebagai kebijakan terpadu yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta instansi teknis terkait.
Menurutnya, program tersebut harus mencakup pemetaan kawasan bekas pertempuran berdasarkan arsip sejarah dan data geospasial, penyisiran serta pemusnahan unexploded ordnance (UXO) atau amunisi yang belum meledak oleh satuan penjinak bom, edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya sisa amunisi perang, hingga pembentukan sistem pelaporan cepat apabila ditemukan benda yang diduga bahan peledak.
Yanni menilai edukasi kepada masyarakat sangat penting karena masih banyak warga yang menganggap granat atau mortir yang telah terkubur puluhan tahun sudah tidak lagi berbahaya.
“Faktanya tidak demikian. Korosi justru dapat membuat bahan peledak semakin tidak stabil dan sulit diprediksi. Karena itu, setiap benda yang diduga merupakan amunisi perang jangan dipindahkan, dibongkar, atau dijadikan koleksi. Masyarakat cukup mengamankan lokasi dan segera melaporkannya kepada aparat yang memiliki keahlian,” tegas Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Papua tersebut.
Ia juga meminta pemerintah memperluas pemetaan seluruh kawasan yang pernah menjadi lokasi pertempuran Perang Dunia II di Biak dan wilayah sekitarnya agar proses penyisiran dapat dilakukan secara bertahap serta memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai daerah-daerah yang masih memiliki tingkat risiko tinggi.
Selain itu, Yanni berharap pemerintah memberikan perhatian khusus kepada para korban, termasuk memprioritaskan pembangunan kembali rumah warga yang rusak akibat ledakan.
“Pembangunan Papua bukan hanya berbicara tentang jalan, jembatan, dan infrastruktur. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Saya juga akan menyampaikan kepada instansi terkait agar penanganan korban, termasuk kebutuhan tempat tinggal mereka, mendapat perhatian dan diprioritaskan,” katanya.
Mengakhiri kunjungannya, Yanni berharap tragedi di Biak menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menuntaskan persoalan sisa-sisa amunisi Perang Dunia II yang masih tersebar di sejumlah wilayah Papua.
“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Pencegahan jauh lebih berharga daripada menunggu jatuhnya korban berikutnya. Sejarah harus dijaga sebagai pengetahuan, tetapi sisa-sisa perang yang masih mengancam keselamatan masyarakat harus segera dituntaskan,” pungkasnya.
Laporan: M. Irfan

















