Foto: istimewa | Tampak Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman, Pemerhati Papua.
Lanny Jaya, jurnalmamberamofoja.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, kembali menjadi sorotan. Di tengah harapan besar untuk mencerdaskan generasi muda Papua, muncul kenyataan pahit bahwa masih ada anak-anak yang lulus sekolah dasar tanpa memiliki kemampuan membaca dan menulis.
Kondisi memprihatinkan tersebut diungkapkan Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman setelah menerima laporan langsung dari seorang Ketua Wilayah Baptis yang ditemuinya di Wamena pada 13 Juni 2026.
Menurut laporan tersebut, sejumlah sekolah di wilayah pedalaman tidak lagi menjalankan fungsi pendidikan sebagaimana mestinya. Gedung sekolah dibiarkan terbengkalai dan dipenuhi rumput liar, sementara para guru jarang berada di tempat untuk melaksanakan proses belajar mengajar.
“Dipelayanan kami, gedung sekolah sudah ditumbuhi rumput dan guru-guru tidak pernah ada di tempat. Anak-anak tidak pernah belajar. Guru-guru datang hanya saat ujian, lalu semua siswa diluluskan meskipun tidak bisa membaca dan menulis,” ungkap Ketua Wilayah Baptis tersebut.
Mendengar laporan itu, Dr. Yoman menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menilai praktik pendidikan seperti itu bukan hanya merugikan peserta didik, tetapi juga menghancurkan masa depan masyarakat Papua.
“Kalau guru hanya datang memberikan ujian, apa yang bisa dijawab oleh anak-anak? Ini tidak benar. Saudara-saudara sedang menghancurkan masa depan anak-anak, gereja, dan bangsa,” tegasnya.
Lebih memprihatinkan lagi, banyak siswa yang berhasil melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP, namun akhirnya memilih kembali ke kampung halaman karena merasa malu. Mereka tidak mampu mengikuti pelajaran akibat tidak menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis.
“Anak-anak masuk SMP, tetapi karena tidak tahu membaca dan menulis, mereka malu lalu pulang ke kampung,” lanjut laporan tersebut.
Peristiwa ini disebut terjadi di wilayah Baptis Yugwa, Distrik Danime, Kabupaten Lanny Jaya. Namun, menurut Dr. Yoman, persoalan serupa kemungkinan juga terjadi di sejumlah wilayah lain yang masih sulit dijangkau pengawasan pendidikan secara maksimal.
Roh Pendidikan yang Mulai Padam
Dr. Yoman menilai persoalan yang terjadi bukan semata-mata karena keterbatasan sarana dan prasarana. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya semangat pengabdian, tanggung jawab moral, dan komitmen dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Ketika guru tidak hadir mengajar, sekolah hanya menjadi tempat formalitas administrasi, dan siswa diluluskan tanpa kemampuan dasar, maka yang sesungguhnya sedang mengalami kemunduran bukan hanya sistem pendidikan, tetapi juga nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
“Pendidikan kehilangan makna ketika pengabdian, keteladanan, dan tanggung jawab tidak lagi menjadi fondasi utama profesi guru,” ujarnya.
Guru Bukan Sekadar Pekerjaan
Dalam refleksinya, Dr. Yoman mengingatkan bahwa profesi guru merupakan panggilan mulia yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk masa depan manusia.
Ia menyinggung istilah “Rabi” dalam tradisi Ibrani dan “Didaskalos” dalam bahasa Yunani yang menggambarkan sosok pengajar yang dihormati karena kebijaksanaan, integritas, serta keteladanannya.
Menurutnya, tugas guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga mendidik karakter, membangun moral, memberi inspirasi, mengoreksi kesalahan, dan menjadi teladan bagi peserta didik.
“Guru profesional harus memahami bahwa tugasnya bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjalankan panggilan moral untuk membangun masa depan generasi,” katanya.
Saatnya Evaluasi Menyeluruh
Dr. Yoman menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai bahan evaluasi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Kabupaten Lanny Jaya.
Ia berharap pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, tokoh agama, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat dapat duduk bersama mencari solusi nyata demi menyelamatkan masa depan generasi muda.
Menurutnya, pendidikan yang sehat merupakan fondasi utama kemajuan suatu bangsa. Ketika anak-anak kehilangan kemampuan membaca dan menulis, mereka sesungguhnya sedang kehilangan hak dasar untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.
Mengutip Amsal 27:17, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,” Dr. Yoman mengajak seluruh pihak menerima kritik sebagai sarana membangun, bukan menjatuhkan.
Harapan bagi Generasi Lanny Jaya
Di akhir tulisannya, Dr. Yoman mengenang para guru yang pernah mendidiknya saat bersekolah di SD Negeri Tiom, yang kini berada dalam wilayah Kabupaten Lanny Jaya.
Nama-nama seperti Suyanto, Natsun Manowarun, Penias Tawaru, Yan Karel Maniba, Saul Rumsumbre, Enos Sawamenay, Yosias Pakage, dan sejumlah guru lainnya disebut sebagai sosok yang telah menanamkan nilai kehidupan, ilmu pengetahuan, serta harapan bagi generasi muda Papua.
“Doa dan harapan saya, semoga tulisan kecil ini menjadi berkat dan cahaya lilin kecil bagi kebangkitan pendidikan di Lanny Jaya,” tutupnya.
Laporan: Sony Rumainum

















