Foto: istimewa | Meki Frits Nawipa, SH., Gubernur Papua Tengah

Penulis: Derek Kobepa
Jayapura, jurnalmamberamofoja.com — Nama Meki Fritz Nawipa bukan sosok asing di tanah Papua. Sebelum menjabat sebagai Gubernur Papua Tengah, ia dikenal sebagai pilot perintis yang menembus awan demi membuka isolasi kampung-kampung di pegunungan. Dari langit, Nawipa menyaksikan betapa luas tanah kelahirannya, sekaligus betapa dalam jurang kesenjangan pembangunan yang membelahnya.
Ketika ia terpilih menjadi gubernur, harapan publik menggelora. Sosok sederhana yang lahir dari rakyat ini diyakini mampu membawa perubahan. Nawipa bertekad membangun Papua Tengah lewat penguatan sumber daya manusia pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal bukan hanya lewat proyek infrastruktur besar yang kerap tak menyentuh akar persoalan.
Baca juga: BBKSDA Bakar Mahkota Cenderawasih, DPR Papua Tengah: Ini Penghinaan terhadap Martabat Budaya Papua
Namun, seiring waktu, optimisme itu mulai teruji. Di berbagai daerah muncul suara kekecewaan. Warga mengeluhkan minimnya program nyata di lapangan, naiknya harga kebutuhan pokok, hingga lemahnya pelayanan publik.
Sebagian pihak juga menyoroti dugaan dukungan terhadap eksploitasi Blok Wabu dan kehadiran perusahaan besar yang dikhawatirkan membawa dampak sosial dan lingkungan bagi masyarakat lokal.
Bagi rakyat, kritik ini bukan penolakan, melainkan panggilan agar pemimpin mereka kembali turun ke tanah menyapa, mendengar, dan bertindak. Mereka ingin melihat Gubernur yang hadir bukan hanya di baliho dan pidato, tapi di tengah kehidupan nyata warganya.

Sebagai pemimpin di provinsi baru yang masih mencari arah, Nawipa kini berada di persimpangan penting: menjadikan kritik sebagai serangan, atau sebagai bahan bakar untuk memperbaiki kebijakan.
Masyarakat Papua Tengah tidak menuntut kesempurnaan mereka hanya ingin merasakan kehadiran pemimpin yang benar-benar mendengarkan dan bekerja.
Meski badai kritik datang, Nawipa masih memiliki modal besar: kepercayaan moral dan kedekatan emosional dengan rakyat Papua. Jika ia mampu menyalakan kembali semangat pengabdian seperti masa mudanya sebagai pilot yang terbang membawa harapan ke pelosok, maka kritik yang datang justru bisa menjadi titik balik bagi Papua Tengah menuju masa depan yang lebih baik.
Papua Tengah bukan sekadar urusan politik dan pembangunan, tetapi perjalanan batin antara pemimpin dan rakyatnya. Kini, rakyat telah bersuara dan Gubernur Meki Nawipa ditantang untuk menjawabnya dengan kerja nyata, bukan janji.
Laporan: Sony Rumainum









