Foto: istimewa | Tampak Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda, SH., MH., bersama Kapolres AKBP. Umar Nasatekay, S.I.K, Asisten I SetdaKab Gilbert Yakwart,S.STP., Kadis kominfo Gustaf Griapon ST., Kadistrik Nimboran Ridwan Wijayanto, beserta kepala kampung dan sejumlah tokoh lainnya saat penanaman kopi Arabika, di Kampung Singgriway, Nimboran, Rabu (23/7).
Sentani, Jurnal Mamberamo Foja – Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama masyarakat Kampung Singgriway, Distrik Kaureh, menanam sebanyak 645 bibit kopi arabika di kawasan Hutan Adat Yano Way, Selasa (23/7).
Aksi ini bukan sekadar program penghijauan, tapi menjadi langkah strategis memperkuat ekonomi kampung berbasis potensi lokal.
Bupati Jayapura, Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H., yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan adalah fokus utama pembangunan daerah.
Ia menolak pendekatan seremonial dan mengingatkan seluruh pihak agar tidak berhenti hanya pada penanaman.
“Kita tidak butuh kegiatan seremonial. Jangan tanam hari ini, besok ditinggal. Harus ada rencana dari tanam sampai panen, dan terutama ke mana hasil ini akan dijual,” tegas Bupati.
Menurutnya, selama ini semangat warga saat tanam sangat tinggi, tapi sering kali tidak dibarengi kesiapan pasar saat panen tiba. Ia menilai tugas pemerintah tidak boleh berhenti pada distribusi bibit semata, tapi harus menjamin rantai nilai dari hulu sampai hilir.
“Pemerintah tidak boleh lepas tangan. Jangan hanya datang bawa bibit, pulang, lalu masyarakat dibiarkan bingung. Kita harus pikirkan pasar dari sekarang,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah kampung juga telah menyumbang 945 titik tanam, ditambah 100 titik dari Dinas Pertanian.
Bupati minta seluruh kegiatan pertanian diarahkan ke dalam wadah koperasi, agar pengelolaan lebih tertib dan memudahkan koordinasi lintas sektor.
“Kalau masing-masing jalan sendiri, kita susah bantu. Tapi kalau ada dalam satu wadah, dinas bisa intervensi langsung. Koperasi harus jadi tulang punggung ekonomi kampung,” tandasnya.
Penanaman kopi arabika ini juga menjadi bagian dari persiapan strategis menyambut kunjungan Menteri Desa dan Transmigrasi ke wilayah Jayapura pada Agustus 2025.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah akan melakukan tanam perdana kakao di atas lahan 20.000 hektare yang sudah disiapkan. Skemanya jelas: masyarakat menanam, hasil dikelola langsung oleh investor.
“Ini model baru. Pasar sudah ada. Tinggal kita siapkan lahan dan tenaga tanam,” ujar Bupati.
Mantan ketua DPR Papua ini juga menyoroti peluang besar di sektor infrastruktur pertanian, yang kini lebih terbuka lewat kebijakan nasional.
Balai Jalan diberi ruang untuk membangun akses jalan ke wilayah produksi pertanian, asalkan titik dan komoditasnya sudah jelas.
“Selama lahan jelas, komoditas jelas kopi, kakao, vanili itu bisa langsung dibangun. Kita harus manfaatkan peluang ini,” ujar bupati yang juga ketua DPD Partai Demokrat Papua itu.
Penanaman kopi arabika di Hutan Adat Singgriway adalah simbol kebangkitan kampung yang berbasis kearifan lokal.
Bupati menegaskan bahwa pembangunan ekonomi kampung hanya akan berhasil jika ada kolaborasi antara semangat masyarakat, kebijakan yang berpihak, dan kesiapan pasar.
“Kita tidak boleh mundur lagi. Kampung harus jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru Papua,” wonda.
Laporan: M. Irfan | Rilis Kominfo

















