Hendrikus Abraham Msojo Ondi Tutup Usia, Tinggalkan Jejak Pengabdian dan Keteladanan di GKI Tanah Papua

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Sony | Alm. Hendrikus Abraham Msojo Ondi disemayamkan di rumah duka, jln Silva Griya, Kotaraja, Senin (7/9).

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Kabar duka datang dari keluarga besar Hendrikus Abraham Msojo Ondi. Pria yang akrab disapa Bram itu meninggal dunia pada Jumat, 4 September 2026, setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di Kotaraja.

banner 325x300

Almarhum mengembuskan napas terakhir pada pukul 02.09 WIT di ruang IGD Rumah Sakit Bhayangkara Kotaraja, dalam usia 66 tahun, 2 bulan, 17 hari.

Kepergian Bram Ondi meninggalkan duka mendalam bagi istri, anak, saudara, cucu, keluarga besar, sahabat, serta lingkungan pelayanan gereja yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Lahir dari Keluarga Besar Ondi

Hendrikus Abraham Msojo Ondi lahir di Jayapura pada 17 Juni 1960. Ia merupakan anak pertama dari delapan bersaudara, pasangan Pendeta Frans D.S. Ondi (alm) dan Nelce Paulina Mano (almh).

Delapan bersaudara tersebut yakni Hendrikus Abraham Msojo Ondi (alm), Henockh Laurens Ondi, Yohanes Markus Marthen Luther Ondi, Yacob Demianus Ondi, William Amos Julius Ondi, Jonthan Ferry Ondi, Augustustinus Timotius Ondi (alm), serta Hanna Maria Desi Binsyowi Ondi.

Sejak masa kanak-kanak, kehidupan Bram telah dekat dengan lingkungan gereja. Ia dipermandikan pada 7 Agustus 1960 di cikal bakal GKI Imanuel Hamadi, Jemaat Hamadi Kotawi, Klasis Hollandia dan sekitarnya, oleh Pendeta Ds. K.R. Schipers.

Dalam perjalanan hidupnya, Abraham Ondi kemudian membangun keluarga bersama Jonetje Maritje Hamadi. Keduanya menikah pada 5 April 1995 di GKI Pniel Kotaraja dan diberkati oleh Pendeta Isaskar Marien.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ronaldo Estevanus Ondi.

Perjalanan Pendidikan hingga Perguruan Tinggi

Perjalanan pendidikan Bram dimulai di Sekolah Dasar Negeri 2 Jalan Sekolah Abepura dan menyelesaikan pendidikan dasar pada 1973.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama YPK Kotaraja dan tamat pada 1976, sebelum melanjutkan ke SMA YPK Biak dan menyelesaikannya pada 1979.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Bram melanjutkan studi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Di perguruan tinggi, ia awalnya mengambil Fakultas Hukum dan menempuh pendidikan hingga semester tujuh. Namun, perjalanan akademiknya kemudian berlanjut dengan beralih ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan IPS, Program Studi Pendidikan Moral Pancasila.

Pendidikan tersebut berhasil diselesaikannya pada 1993. Selama menjalani pendidikan di UKSW, Hendrikus merupakan salah satu penerima beasiswa GKI.

Aktif dalam Organisasi, Pers Kampus dan Berbagai Pelatihan

Semasa menjadi mahasiswa, Abraham Ondi dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, seminar, forum studi, pendidikan kepemimpinan hingga kegiatan pers kampus.

Pada 1981, ia tercatat mengikuti kegiatan GMKI Jakarta Raya. Setahun kemudian, ia memperoleh penghargaan dalam Pekan Studi Ilmiah UKSW Salatiga dan terlibat dalam Panitia Nasional Studi GMKI di Medan.

Pada 1982, Bram Ondi juga mengikuti seminar mengenai antisipasi dampak strategi pembangunan makro sektoral dan mikrospasial dalam pembangunan terpadu Irian Jaya.

Ketertarikannya terhadap dunia pers dan kepemimpinan semakin terlihat melalui keterlibatannya dalam pengelolaan Gita Mahasiswa Pers Kampus pada 1983.

Ia juga mengikuti berbagai kegiatan GMKI, pembinaan kepemimpinan, konferensi studi wilayah, pendidikan pers kampus, hingga dipercaya menjadi moderator dalam kegiatan pers kampus.

Pada 1985, almarhum mengikuti kursus filsafat di Yayasan Bina Dharma. Ia kemudian kembali aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan dan seminar, termasuk seminar pers kampus mahasiswa Wilayah III Jawa Tengah-Yogyakarta pada 1986.

Pada tahun yang sama, Bram juga terlibat dalam Forum Konsultasi UKSW dengan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya.

Perjalanan pengembangan dirinya terus berlanjut. Pada 1987, ia mengikuti program pendidikan dan keterampilan pendidikan filsafat, menjadi panitia konsultasi wanita Indonesia asal Irian Jaya se-Jawa, serta menerima penghargaan dalam Lomba Karya Tulis Mahasiswa Senat FKIP UKSW.

Ia juga mengikuti Studi Jepang pada 1989 dan Program Pendidikan Komputer Dasar Pemrograman pada 1992.

Pada tahun yang sama, ia memperoleh penghargaan setelah mengikuti seminar sehari Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Irian Jaya (IPMIRJA).

Baca juga: Puluhan Tahun Mengabdi, Pdt. E. M. Willem Rumainum Tinggalkan Warisan Iman dan Keteladanan

Memasuki dunia profesional, Bram mengikuti job training jurnalistik di Suara Pembaruan pada 1995. Ia juga mengikuti pelatihan monitoring HAM di Irian Jaya melalui ELSAM-YKPHM pada tahun yang sama.

Pada Januari 1996, ia mengikuti Human Rights Workshop CCA di Filipina.

Rangkaian pendidikan, organisasi, pelatihan dan pengalaman tersebut menjadi bagian yang membentuk wawasan serta karakter Hendrikus dalam menjalankan pengabdian sepanjang hidupnya.

Tiga Dekade Mengabdi untuk GKI

Salah satu bagian terbesar dalam perjalanan hidup Bram adalah pengabdiannya di lingkungan GKI di Tanah Papua.

Pada 1 April 1994, Abraham Msojo Ondi diangkat sebagai pegawai GKI Irian Jaya berdasarkan SK Nomor 53/UP/SK/1994.

Ia kemudian ditempatkan sebagai staf pada Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Tugas tersebut dijalankannya hingga 2004.

Setelah sekitar satu dekade menjadi staf, kepercayaan yang lebih besar diberikan kepadanya. Bram ditugaskan sebagai Sekretaris Departemen Penelitian dan Pengembangan oleh Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua.

Penugasan tersebut berdasarkan Nota Tugas Nomor 273/G-6/V/2004 tertanggal 10 Mei 2004.

Selanjutnya, ia ditetapkan sebagai Sekretaris definitif melalui SK Nomor 108/G-11.b/II/2004.

Posisi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya di lingkungan GKI di Tanah Papua.

Abraham Ondi memasuki masa purna tugas pada 2020. Namun, berdasarkan kebijakan Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua, ia masih menjalankan tugas hingga 2022.

Ia kemudian resmi mengakhiri masa pengabdiannya setelah pelaksanaan Sidang Sinode XVIII GKI di Tanah Papua yang berlangsung di Kabupaten Waropen pada 2022.

Pribadi yang Mengutamakan Tuhan dan Tanggung Jawab

Bagi keluarga, Bram bukan hanya seorang pegawai gereja. Ia adalah sosok yang menjadikan Tuhan sebagai bagian utama dalam kehidupannya.

Dalam keseharian, almarhum dikenal selalu berusaha menjalankan setiap tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Ia dikenal tidak pernah melalaikan tugas, khususnya tugas pelayanan, kecuali ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.

Baca juga: Mengenang Bapak Anderson Dantje Nere, S.Sos., M.Si.

Bagi orang-orang yang mengenalnya dekat, Hendrikus merupakan teman diskusi yang baik. Ia juga dikenal dekat dengan anak-anak dan mampu membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.

Salah satu sifat yang paling dikenang keluarga adalah kebiasaannya untuk tidak menunda pekerjaan.

Ia merupakan pribadi yang ramah, mandiri dan berusaha tidak membebani orang lain.

Dalam menghadapi berbagai persoalan, Hendrikus lebih memilih mencari jalan keluar daripada memperbesar masalah.

Ia dikenal sebagai pribadi yang selalu berusaha berpikir tentang solusi, bukan masalah.

Kritis dalam Pelayanan Gereja

Dalam menjalankan pelayanan gerejawi, Bram juga dikenal sebagai pribadi yang kritis.

Ia tidak segan memberikan perhatian terhadap tata pelayanan gereja, terutama ketika menjalankan tugas-tugas gerejawi sebagai penatua di Jemaat Getsemani dan Viadolorosa Tobati.

Sikap kritis tersebut tidak terlepas dari kepeduliannya terhadap pelayanan dan kehidupan gereja.

Bagi Bram, pelayanan bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi juga bagaimana setiap tugas dapat dilakukan dengan baik dan memberikan manfaat bagi jemaat.

Sosok Penengah dan Penyemangat Keluarga

Di tengah keluarga, Abraham Ondi memiliki tempat yang istimewa.

Ia dikenal sebagai pendengar yang baik bagi anggota keluarga yang sedang menghadapi persoalan. Ia juga kerap menjadi penengah dan memberikan semangat ketika keluarga menghadapi berbagai situasi.

Sebagai pribadi yang mandiri, Bram berusaha tidak merepotkan saudara-saudaranya.

Ia juga sangat menghargai hubungan kekerabatan dan tata krama dalam keluarga.

Meski merupakan anak pertama dan lebih tua dari sebagian anggota keluarga, ia tetap menghormati hubungan kekerabatan dengan memanggil “kakak” kepada anak-anak dari saudara yang lebih tua atau tante, sebagai bentuk penghormatan terhadap tata keluarga.

Sikap tersebut menjadi salah satu kenangan yang terus melekat bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Kepergian Mendadak Setelah Kecelakaan

Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan hidup Hendrikus Abraham Msojo Ondi akan berakhir secara mendadak.

Berdasarkan kesaksian keluarga, sebelum kejadian almarhum tidak sedang dalam kondisi sakit.

Pada Kamis, 3 September 2026, Bram keluar dari rumah untuk memenuhi keperluan di sebuah kedai makanan.

Setelah menyelesaikan keperluannya, ia kemudian bermaksud pulang ke rumah.

Namun, ketika sedang menyeberangi jalan, sebuah sepeda motor yang datang dari arah Jayapura dengan kecepatan tinggi menabraknya.

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 00.15 WIT.

Baca juga: Uncen Berduka: Tutup Usia Saat Pimpin Dies Natalis, In Memoriam Dr. Hans Z. Kaiwai, M.Sc

Menurut kesaksian yang berada di lokasi, pengendara sepeda motor terlempar ke seberang jalan setelah benturan. Berdasarkan keterangan polisi yang diterima keluarga, sepeda motor tersebut melaju dalam kecepatan tinggi.

Bram kemudian mendapat pertolongan dari sejumlah anak muda yang berada di sekitar lokasi.

Ia selanjutnya dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara Kotaraja menggunakan kendaraan pikap Maxim dengan bagian belakang terbuka.

Setibanya di rumah sakit, almarhum masih dalam kondisi sadar meski kesadarannya tidak sepenuhnya baik.

Namun, beberapa saat kemudian kondisi jantungnya mengalami gangguan. Kondisi tersebut terlihat melalui bedside monitor.

Dokter dan tenaga medis kemudian melakukan tindakan CPR untuk memberikan pertolongan. Setelah tindakan tersebut, almarhum sempat kembali sadar.

Namun, kondisi Bram Ondi kembali menurun.

Dokter dan tim medis kembali melakukan upaya pertolongan. Pihak keluarga kemudian mendapat penjelasan mengenai kondisi kritis yang dialami almarhum.

Keluarga diberitahu bahwa kadar oksigen dalam darah dan otak semakin berkurang sehingga mereka diminta bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Hingga akhirnya, pada Jumat, 4 September 2026, tepat pukul 02.09 WIT, dokter menyatakan Hendrikus Abraham Msojo Ondi telah meninggal dunia.

Meninggalkan Jejak yang Tak Terhapuskan

Kepergian Abraham Msojo Ondi meninggalkan kesedihan yang mendalam.

Namun, bagi keluarga, kehilangan tersebut tidak akan menghapus seluruh kebaikan, pengabdian dan keteladanan yang telah ditinggalkannya.

Kesetiaan, kerendahan hati dan kesederhanaan menjadi tiga hal yang paling kuat dikenang dari sosok Hendrikus.

Dalam doa-doanya, almarhum juga selalu membawa nama keluarga. Ia mendoakan istri, anak-anak, cucu-cucu, kakak, adik dan seluruh keluarga.

Kini, sosok yang selama ini menjadi tempat keluarga berbagi cerita, meminta nasihat dan mendapatkan semangat telah pergi untuk selamanya.

Keluarga mengenang Bram sebagai sosok yang telah menjadi pengukir jiwa, cahaya dan pelita dalam kehidupan mereka.

Meski ruang dan waktu kini memisahkan, kenangan tentang dirinya diyakini tidak akan pernah hilang.

Foto menjadi satu-satunya cara keluarga untuk menatap wajahnya, tetapi nilai kehidupan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam hati orang-orang yang mencintainya.

“Selamat jalan Bapak, Ayah, Kakak, Orang Tua, Tete dan Oyang terbaik kami. Kami akan selalu merindukanmu. Engkau akan selalu dikenang dan selalu ada di hati kami.”

Hendrikus Abraham Msojo Ondi telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Ia meninggalkan seorang istri, seorang anak, saudara-saudara, cucu-cucu, keluarga besar, serta jejak pengabdian yang panjang bagi gereja dan lingkungan sekitarnya.
Kini, ia beristirahat dalam keabadian.

Selamat jalan Bapak Abraham Msojo Ondi. Jejak hidupmu menjadi kenangan, pengabdianmu menjadi teladan, dan kasihmu akan tetap hidup di hati keluarga yang ditinggalkan.

Tuhan Yesus memberkati.
Silva Griya, 7 September 2026

Laporan: Sony Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *