Foto: istimewa | Tampak Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, S.H., M.H., buka bajunya usai melihat langsung warga sipil korban insiden, Rabu (1/7).
Intan Jaya, jurnalmamberamofoja.com – Bupati Kabupaten Intan Jaya, Aner Maisini, S.Com., S.H., M.H., menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi keamanan yang hingga kini masih membayangi kehidupan masyarakat di wilayahnya. Dalam kunjungannya ke lokasi insiden pada Selasa (1/7/2026), ia menyampaikan pernyataan terbuka di hadapan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta berbagai pemangku kepentingan.
Momen tersebut menjadi perhatian ketika Bupati melepaskan baju yang dikenakannya sebagai bentuk simbolis atas kekecewaan dan kegelisahan terhadap kondisi keamanan yang menurutnya masih terus berdampak pada masyarakat sipil. Tindakan itu, kata dia, merupakan ungkapan beban moral sebagai kepala daerah yang setiap hari menerima laporan mengenai penderitaan warganya.
Dalam pernyataannya, Bupati Maisini menegaskan bahwa warga yang menjadi korban dalam berbagai insiden keamanan belakangan ini merupakan masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam kelompok bersenjata. Menurutnya, mereka hanyalah warga yang menjalankan aktivitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Yang menjadi korban adalah masyarakat sipil. Mereka pergi ke kebun, berdagang, mencari kayu bakar, beribadah, bahkan anak-anak yang hendak bersekolah. Mereka bukan bagian dari kelompok bersenjata,” tegasnya.
Ia mengaku prihatin karena situasi yang terjadi, menurut pandangannya, masih menunjukkan adanya kesulitan dalam membedakan warga sipil dengan pihak-pihak yang menjadi sasaran operasi keamanan. Kondisi tersebut, lanjutnya, telah menimbulkan rasa takut yang berkepanjangan di tengah masyarakat.
Bupati menilai negara melalui aparat keamanan memiliki tanggung jawab untuk memberikan perlindungan kepada seluruh warga negara. Karena itu, ia berharap setiap langkah penegakan hukum dan keamanan dilakukan secara profesional, proporsional, serta tetap menjunjung tinggi perlindungan terhadap warga sipil sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Yang kami harapkan hanya satu, masyarakat mendapat rasa aman. Jangan sampai warga yang tidak terlibat justru menjadi korban. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Maisini juga menggambarkan kondisi Kabupaten Intan Jaya yang menurutnya sangat memprihatinkan. Ia menyebut kehidupan masyarakat hampir setiap hari dibayangi rasa takut sehingga aktivitas ekonomi, pendidikan, maupun pelayanan publik terganggu. Bahkan, ia menyatakan situasi tersebut membuat Intan Jaya terasa seperti berada dalam kondisi darurat militer.
Menurutnya, banyak petani memilih tidak pergi ke kebun, pedagang membatasi aktivitas, sementara anak-anak kesulitan mengikuti proses belajar dengan tenang. Kondisi tersebut, katanya, tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga memengaruhi sektor ekonomi, pendidikan, sosial, hingga psikologis masyarakat.
Karena itu, Bupati Intan Jaya mengajak pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan pendekatan yang lebih humanis dalam penyelesaian konflik di Intan Jaya. Ia menilai dialog dan komunikasi yang baik menjadi langkah penting dalam mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan, dengan perlindungan terhadap warga sipil sebagai prinsip utama.
Di tengah situasi tersebut, seruan Save Intan Jaya kembali disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kemanusiaan di daerah itu. Seruan tersebut mengajak seluruh pihak memberikan perhatian serius terhadap keselamatan warga sipil, menghentikan segala bentuk kekerasan, serta mengedepankan penyelesaian konflik melalui dialog yang damai dan bermartabat.
Menutup pernyataannya, Bupati Aner Maisini berharap Kabupaten Intan Jaya dapat kembali menjadi daerah yang aman, damai, dan kondusif sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas tanpa rasa takut.
“Masyarakat hanya ingin hidup tenang. Mereka ingin berkebun, bekerja, beribadah, dan menyekolahkan anak-anak mereka dengan aman. Harapan kami sederhana, semoga kedamaian benar-benar dapat terwujud di Intan Jaya,” tutupnya.
Laporan: Sony Rumainum

















