Dari Menu Monoton hingga Distribusi Tersendat, Ini Temuan Yanni Saat Tinjau MBG di Jayapura

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Yanni, SH., M.Sos., Anggota KEPP Otsus ketika melakukan kunjungan ke sejumlah Sekolah di Kota Jayapura melihat langsung penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (5/6). 

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan
Otonomi Khusus (KEPP Otsus) Papua, Yanni, turun langsung meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Jayapura.

banner 325x300

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan manfaat program benar-benar dirasakan siswa sekaligus menghimpun berbagai masukan sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan program ke depan.

Peninjauan dilakukan di SD Negeri Inpres 1 APO, SD Negeri Inpres 2 APO, dan SMP Negeri 1 Jayapura, Jumat (5/6/2026). Dalam kunjungan itu, Yanni berdialog langsung dengan kepala sekolah, guru, dan pengelola pendidikan yang sehari-hari berinteraksi dengan para penerima manfaat program.

Menurut Yanni, MBG merupakan program strategis yang memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak-anak. Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, melainkan juga kualitas gizi, kebersihan, variasi menu, hingga ketepatan waktu distribusi.

“Program ini sangat baik dan manfaatnya besar bagi anak-anak. Karena itu masukan dari sekolah menjadi sangat penting agar pelaksanaannya terus mengalami perbaikan,” ujar Yanni.

Di SD Negeri Inpres 2 APO, Kepala Sekolah Dewi Hutagaul mengaku para siswa menyambut antusias program MBG sejak pertama kali dilaksanakan. Kehadiran program tersebut membantu siswa mendapatkan asupan makanan bergizi selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Meski demikian, Dewi menilai variasi menu masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, menu yang disajikan masih didominasi telur dan ayam sehingga anak-anak menginginkan pilihan makanan yang lebih beragam.

“Hari ini telur, besok ayam, lalu kembali lagi telur dan ayam. Kalau menunya lebih bervariasi tentu anak-anak akan lebih bersemangat,” katanya.

Selain variasi menu, Dewi juga menyoroti kualitas bahan makanan yang diterima siswa. Ia berharap pengawasan terhadap bahan pangan semakin diperketat agar seluruh makanan yang disajikan benar-benar layak konsumsi.

“Kami pernah menemukan buah yang kualitasnya kurang baik, seperti pisang yang tidak segar saat dibuka dan jeruk yang masih terlalu muda sehingga rasanya cukup asam bagi anak-anak. Program ini sangat bagus, hanya saja kualitas bahan makanannya perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.

Dewi juga menyampaikan aspirasi sejumlah orang tua murid yang berharap pemerintah dapat mempertimbangkan program sekolah gratis sebagai bagian dari upaya meringankan beban pendidikan keluarga.

Masukan serupa disampaikan Kepala SD Negeri Inpres 1 APO, Matilda Noya. Ia menjelaskan bahwa kualitas layanan MBG mengalami peningkatan dibandingkan masa awal pelaksanaan. Namun masih terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, terutama terkait kebersihan makanan dan ketepatan waktu distribusi.

Matilda mengungkapkan pihak sekolah pernah menerima laporan adanya sayuran yang belum dibersihkan secara sempurna sehingga ditemukan cacing berukuran kecil. Selain itu, makanan juga beberapa kali tiba menjelang berakhirnya jam pelajaran sehingga tidak semua siswa dapat menikmati makanan dengan optimal.

“Kami berharap kebersihan makanan lebih diperhatikan. Ketepatan waktu distribusi juga sangat penting karena setiap sekolah memiliki jadwal belajar yang berbeda,” katanya.

Ia juga mengusulkan agar dapur penyedia makanan ditempatkan lebih dekat dengan sekolah penerima manfaat sehingga kualitas makanan dapat lebih terjaga dan pengawasan menjadi lebih mudah dilakukan.

Usai mengunjungi sekolah-sekolah tersebut, Yanni melanjutkan peninjauan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bhayangkara di Dok II.

Kunjungan itu dilakukan untuk memperoleh penjelasan terkait penghentian sementara distribusi MBG yang sempat dikeluhkan sejumlah sekolah dalam beberapa hari terakhir.

Tampak Yanni, SH., M.Sos., bersama kepala Sekolah di SDN APO, Kota Jayapura
Tampak Yanni, SH., M.Sos., bersama kepala Sekolah di SDN APO, Kota Jayapura

Baca juga: Ketua LPRI Papua Minta MBG Dievaluasi Total, Soroti Dugaan Makanan Tak Layak

Kepala SPPG Jayapura Bhayangkara, Abraham Daondi, menjelaskan penghentian sementara distribusi terjadi akibat proses penyesuaian dan penambahan anggaran dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Menurut Abraham, kondisi tersebut berdampak pada operasional dapur yang melayani 15 sekolah dengan total 3.439 siswa penerima manfaat.

“Sebelumnya kami masih menggunakan dana talangan. Saat ini kami menunggu proses penambahan anggaran selesai agar pelayanan dapat kembali berjalan normal,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa informasi yang diterima pihaknya menyebutkan proses penambahan anggaran telah dilakukan pada Jumat. Apabila seluruh tahapan administrasi berjalan lancar, distribusi MBG dijadwalkan kembali normal pada awal pekan depan.

Dalam kunjungan tersebut, Yanni yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Papua didampingi Wakil Ketua Pokja Agama MRP, Izak R. Hikoyabi.

Menariknya, hasil evaluasi yang ditemukan tidak sama di setiap sekolah. Di SMP Negeri 1 Jayapura, pelaksanaan MBG justru mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Yanni melihat langsung makanan yang disiapkan oleh dapur MBG Polda Papua dengan kualitas yang dinilai baik dan proses pelayanan yang berjalan lancar.

Menurut Yanni, perbedaan kondisi tersebut menjadi bahan penting untuk mengidentifikasi pola pelayanan terbaik yang dapat diterapkan secara lebih luas di seluruh wilayah Papua.

“Kami melihat manfaat program ini sangat nyata. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi setiap hari. Namun masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, seperti variasi menu, kualitas bahan makanan, kebersihan, dan keberlangsungan distribusi. Ini akan menjadi catatan penting untuk terus kami dorong perbaikannya,” tegasnya.

Yanni menegaskan seluruh hasil peninjauan akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Papua. Ia berharap berbagai masukan yang disampaikan sekolah dapat menjadi perhatian pemerintah sehingga kualitas layanan semakin baik dan manfaat program semakin dirasakan oleh para siswa.

Sementara itu, Wakil Ketua Pokja Agama MRP, Izak R. Hikoyabi, menilai langkah Yanni turun langsung ke sekolah dan dapur MBG menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap program-program strategis pemerintah.

“Program ini sangat baik. Karena itu pengawasan harus terus dilakukan agar kualitas pelayanan tetap terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak Papua,” ujarnya.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *