Foto: istimewa | Tampak Yorrys Raweyai, Waket DPD RI, didampingi sejumlah anggota DPD lainnya dari Tanah Papua, Fillep Wamafma, Sopater Sam, Lis Tabuni, Carel SP. Suebu, Hartono, Arianto Kogoya ketika memberikan keterangan pers, Selasa (21/4).
Jakarta, jurnalmamberamofoja.com – Eskalasi konflik keamanan di Tanah Papua kembali menjadi sorotan serius. Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari daerah pemilihan Papua menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan sepanjang periode 2025 hingga 2026.
Dalam keterangan pers tertulis yang disampaikan di Jakarta, Selasa (21/4/2026), para senator menilai situasi di Papua menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan maraknya insiden kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah dan melibatkan banyak pihak.
Yorrys Raweyai, Waket DPD RI mengungkapkan, rangkaian konflik tersebut telah memicu puluhan peristiwa dengan jumlah korban jiwa yang mencapai ratusan orang. Korban berasal dari masyarakat sipil, aparat keamanan, hingga kelompok bersenjata yang selama ini dikenal dengan berbagai sebutan seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM), Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Kondisi ini dinilai tidak hanya mengancam stabilitas keamanan, tetapi juga berdampak luas terhadap aspek sosial dan kemanusiaan masyarakat Papua yang kian rentan di tengah situasi konflik berkepanjangan.
Yorrys mewakili para senator pun mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil langkah konkret dan terukur guna meredam eskalasi konflik, sekaligus memastikan perlindungan maksimal bagi warga sipil.
Selain pendekatan keamanan, DPD RI juga menekankan pentingnya strategi komprehensif melalui dialog, percepatan pembangunan, serta penyelesaian akar persoalan secara berkelanjutan.
DPD RI berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan mengedepankan jalur damai demi menciptakan Papua yang aman, stabil, dan sejahtera.
Laporan: Sony Rumainum

















