Foto: Irfan |Nampak Wamenpar RI Ni Luh Enik Ermawati didampingi Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri, Bupati Jayapura Yunus Wonda, Anggota DPR Papua dan Anggota MRP Provinsi Papua, serta sejumlah tokoh adat ketika menabuh Tifa sebagai tanda dibukanya pelaksanaan event Festival Danau Sentani (FDS) XV di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Kamis, (3/9).
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 resmi dibuka Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) RI, Ni Luh Enik Ermawati, di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (3/9/2026).
Pembukaan FDS XV ditandai dengan penabuhan Tifa oleh Wamenpar Ni Luh Enik Ermawati bersama Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri, Bupati Jayapura Yunus Wonda, Anggota DPR Papua, Anggota MRP Provinsi Papua dan sejumlah tokoh adat.
Turut hadir dalam pembukaan tersebut Duta Besar Seychelles untuk Asia, Niko Barito, Anggota DPR RI Yan Permenas Mandenas dan Tonny Tesar, Anggota DPD RI Carel Suebu, Wakil Bupati Jayapura Haris Richard S. Yocku, Anggota DPR Papua Herlin Beatrix Monim, jajaran Forkopimda Papua dan Kabupaten Jayapura, Anggota DPRK Jayapura, tokoh adat, tokoh agama, pelaku seni dan budaya, pelaku UMKM, komunitas serta wisatawan domestik dan mancanegara.
Dalam sambutannya, Ni Luh Enik Ermawati memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura yang kembali membawa FDS masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, bersama 110 event festival lainnya di Indonesia.
Namun, menurutnya, masuknya FDS dalam kalender KEN bukan sekadar pencapaian administratif. Pemerintah daerah harus mampu membuktikan bahwa penyelenggaraan festival tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Selamat kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura karena event FDS telah kembali masuk dalam kalender KEN. Semoga dengan masuknya FDS dalam kalender KEN, Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura dapat terus menyelenggarakan dan meningkatkan kualitas festival ini ke depannya,” ujar Ni Luh.
Ia menegaskan, FDS tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Festival harus menjadi ruang bagi masyarakat adat untuk menampilkan, mengembangkan dan melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Wamenpar Ni Luh Enik Hadir Buka FDS XV, Yunus: Puji Tuhan!
Menurut Ni Luh, keberhasilan FDS tidak cukup hanya dilihat dari kemeriahan acara dan jumlah pengunjung. Lebih penting lagi, festival harus mampu menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya pelaku UMKM dan masyarakat adat.
“Ke depannya kita mendorong FDS tidak hanya berfokus pada acara seremonial saja. Akan tetapi, bagaimana mendorong masyarakat hadir dan merasa memiliki bahwa festival ini diselenggarakan untuk mengembangkan dan melestarikan budayanya,” katanya.
FDS Harus Punya Indikator Manfaat
Wamenpar juga meminta Pemkab Jayapura memiliki indikator yang jelas untuk mengukur dampak penyelenggaraan FDS terhadap masyarakat.
Indikator tersebut, kata dia, penting untuk melihat sejauh mana festival memberikan manfaat bagi pelaku UMKM, masyarakat lokal dan sektor pariwisata secara keseluruhan.
Evaluasi tersebut juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penyelenggaraan FDS berikutnya, termasuk peluang untuk kembali masuk dalam kalender KEN pada 2027.
“FDS harus memiliki indikator yang jelas terkait asas manfaat bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi UMKM yang ada di Kabupaten Jayapura maupun Papua,” tegasnya.
Ni Luh menambahkan, FDS XV juga harus menjadi momentum untuk memberikan panggung lebih luas kepada pelaku budaya lokal. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian utama dari festival.
Ia juga mendorong Pemerintah Provinsi Papua membangun kolaborasi dengan kabupaten dan kota lainnya untuk menyusun rangkaian festival budaya sebagai satu paket perjalanan wisata.
Dengan konsep tersebut, wisatawan yang datang ke Papua diharapkan tidak hanya menikmati satu festival, tetapi dapat melanjutkan perjalanan ke daerah lain untuk menyaksikan beragam kekayaan budaya Papua.
Langkah ini dinilai dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas perputaran ekonomi ke berbagai daerah.
Baca juga: Wapres Batal Hadir, Yunus Wonda Minta Warga Tetap Meriahkan FDS XV
Pengunjung Jangan Hanya Jadi Penonton
Di akhir sambutannya, Ni Luh Enik secara khusus meminta agar pelaksanaan FDS ke depan semakin interaktif.
Wisatawan, menurutnya, harus diberi kesempatan untuk merasakan langsung pengalaman budaya masyarakat Papua, bukan hanya menyaksikan pertunjukan dari kejauhan.
Sejumlah aktivitas budaya yang dapat melibatkan pengunjung antara lain atraksi pangkur sagu, memutar papeda, menjahit noken hingga mencari ulat sagu.
“Pengunjung diberi ruang melakukan atraksi pangkur sagu, memutar papeda, menjahit noken, mencari ulat sagu dan sejumlah atraksi budaya lainnya,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi tantangan bagi penyelenggara FDS agar festival budaya di Kabupaten Jayapura tidak hanya semakin meriah, tetapi juga semakin hidup dan interaktif.
Lebih dari itu, FDS diharapkan mampu menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, dengan tetap menempatkan masyarakat adat sebagai pemilik utama budaya yang ditampilkan.
Laporan: M. Irfan

















