Foto: istimewa / Tampak Hendrik Pitawa bersama para mahasiswa di halaman Asrama Mamberamo Raya, (9/9/24).
Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Mahasiswa asal Kabupaten Mamberamo Raya kembali menyuarakan desakan kepada Pemerintah Daerah agar segera mencairkan bantuan studi yang hingga kini belum juga diterima.
Mereka menilai lambatnya proses pencairan bantuan pendidikan itu telah menghambat proses akademik, terutama bagi mahasiswa yang akan wisuda dan menyelesaikan skripsi pada 2025.
Salah satu mahasiswa asal Mamberamo Raya di kota studi Jayapura, Hendrik Pitawa yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Cendrawasih ini, mengkritik keras kinerja Bappeda dan jajaran terkait yang dinilai tidak bekerja secara proporsional.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan bantuan studi seharusnya mengikuti kalender akademik, bukan berdasarkan kebijakan sepihak yang justru menyulitkan mahasiswa.
“PLT Sekda, Sergius Doromi, pada Februari lalu sudah menginstruksikan staf Bappeda untuk segera menerbitkan surat edaran guna melengkapi berkas monitoring data mahasiswa. Tapi hingga Mei ini, dana bantuan belum juga dicairkan,” ujar Hendrik.
Akibat keterlambatan ini, Hendrik bersama sejumlah mahasiswa lainnya mendesak Bupati dan Wakil Bupati Mamberamo Raya untuk turun langsung melihat kondisi mahasiswa.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kesulitan yang dialami mahasiswa di luar daerah.
“Jangan seolah-olah kami menyembunyikan diri. Kami mahasiswa Mamberamo Raya sangat terdampak. Kami minta pemimpin daerah peduli dan hadir,” tegasnya.
Hendrik juga mengingatkan pernyataan Wakil Bupati Mamberamo Raya, Keven Totouw, S.IP, yang pada awal Maret sempat meminta mahasiswa bersabar karena masih menunggu penetapan Peraturan Bupati (Perbup) terkait bantuan tersebut.
Menurut Hendrik, jika dana sudah dialokasikan, seharusnya pemerintah bisa segera menindaklanjuti proses pencairan tanpa menunda lebih lama.
“Kalau Perbup itu tinggal menunggu, seharusnya tidak menghambat proses bantuan. Jangan buat kami terus menunggu ketidakpastian,” kata Hendrik.
Ia menambahkan, mahasiswa asal Mamberamo Raya hanya meminta perhatian dan kepedulian dari pemerintah daerah.
Mereka berharap Pemda benar-benar berkomitmen dalam memberdayakan sumber daya manusia di wilayah berjuluk “Seribu Misteri, Sejuta Harapan” itu.
“Bagaimana kami bisa berkembang kalau pemerintah sendiri tidak mendukung pendidikan kami? Kami butuh sponsor positif dari Pemda untuk masa depan Mamberamo Raya,” pungkas Hendrik.
Laporan: Roy

















