Foto: istimewa / Nampak Kapolresta Jayapura KBP Victor Mackbon bersama Kasat Reskrim AKP. I Gede Dewa Ditya saat gelar konfrensi pers di Mapolsek Abepura, (5/4).
Jayapura, Jurnal Mamberamo Foja – Peristiwa tragis yang menimpa Nur Alissah Aulia (2), balita asal Koya Barat, Kota Jayapura, menyisakan duka mendalam dan sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan anak di lingkungan rumah dan sekitar.
Nur Alissah dilaporkan hilang pada Minggu, 30 Maret, dan ditemukan meninggal dunia empat hari kemudian di pinggir kolam berjarak sekitar 250 meter dari kios orang tuanya.
Penemuan jenazah yang memunculkan banyak tanda tanya ini kini tengah dalam proses penyelidikan intensif oleh Polresta Jayapura Kota dan Polsek Muara Tami.
Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Victor D. Mackbon, didampingi Kasat Reskrim AKP I Gede Dewa Ditya, menyampaikan bahwa sejauh ini sudah ada 10 saksi yang diperiksa, termasuk kedua orang tua korban. Pemeriksaan dilakukan dengan alat lie detector untuk mendalami berbagai keterangan.
“Upaya kami fokus pada pengungkapan fakta secara ilmiah. Kami tidak ingin ada spekulasi tanpa dasar yang berkembang di masyarakat,” ujar Kapolresta dalam konferensi pers di Mapolsek Abepura.
Trauma Keluarga, Perhatian Kolektif Masyarakat
Kematian Alissah tidak hanya mengejutkan keluarga, tetapi juga mengetuk kesadaran kolektif masyarakat tentang betapa rentannya anak-anak terhadap bahaya, bahkan di lingkungan yang dianggap aman. Perhatian sesaat yang teralihkan, seperti dalam kasus padamnya listrik yang disebut ayah korban, bisa berdampak besar.
Dalam konteks ini, para orang tua diimbau untuk selalu waspada dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, termasuk pengawasan saat bermain dan pengamanan area berisiko seperti kolam, sumur, atau jalanan ramai.
Pendekatan Ilmiah dalam Penyelidikan
Autopsi awal di RS Bhayangkara TK. II Jayapura menemukan adanya luka gores pada tubuh korban, dan kondisi tangan kiri yang terlepas. Fakta-fakta medis ini menjadi dasar penting dalam proses penyelidikan lanjutan.
Kolaborasi antara tim forensik dan penyidik menjadi kunci dalam mengurai misteri penyebab kematian Alissah. Pendekatan berbasis bukti dan sains menjadi fondasi utama untuk mencegah kesimpulan prematur yang bisa merugikan proses hukum maupun keluarga korban.
Seruan untuk Menyebarkan Empati, Bukan Spekulasi
Di tengah maraknya penyebaran informasi di media sosial, masyarakat diimbau untuk tidak turut menyebarkan asumsi atau kabar yang belum terverifikasi. Kasus ini membutuhkan ruang dan waktu agar dapat ditangani secara tuntas dan adil.
“Tujuan utama kami adalah memberikan keadilan bagi korban. Kami akan terus bekerja hingga peristiwa ini benar-benar terang benderang,” tegas Kombes Victor.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya keselamatan anak, perlindungan keluarga, dan kepercayaan pada proses hukum yang profesional dan transparan.
Laporan: Sony RM / rilis
















