Buka FDS 2026, Wamenpar: Wisatawan Harus Rasakan Langsung Budaya Papua

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: istimewa | Tampak Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati, bersama Gubernur Papua Matius Fakhiri dan Bupati Jayapura Yunus Wonda, Perwakilan MRP, Febiola Ohee, dan Perwakilan DPR Papua, Herlin Monim, beserta jajaran Forkopimda Papua membuka Festival Danau Sentani XV 2026, di Pantai Khalkote, Kamis (3/9). 

Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Riuh budaya Papua kembali menggema di tepian Danau Sentani. Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 resmi dibuka Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Enik Ermawati, di Pantai Khalkote, Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Kamis (3/9/2026).

banner 325x300

Pembukaan FDS XV berlangsung meriah dengan dihadiri para Ondoafi/Ondofolo, Tokoh adat, Tokoh masyarakat, pelaku seni dan budaya, serta pelaku pariwisata.

Sejumlah atraksi budaya ditampilkan untuk memperkenalkan sekaligus menjaga kekayaan tradisi masyarakat Papua.

Namun, Wamenpar Ni Luh Enik Ermawati menegaskan, FDS tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Festival harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan budaya sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

“Ke depan kita mendorong FDS tidak hanya berfokus pada acara seremonial, tetapi lebih kepada bagaimana masyarakat hadir dan merasa memiliki festival ini untuk mengembangkan dan melestarikan budayanya,” ujar Ni Luh Enik.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan sebuah festival. Masyarakat tidak hanya menjadi pengisi acara, tetapi harus menjadi bagian utama yang mendapatkan manfaat, termasuk pelaku seni, budaya, pariwisata dan UMKM.

Wamenpar juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jayapura karena FDS XV masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, bersama 110 festival lainnya di berbagai daerah Indonesia.

Ia menekankan, masuknya FDS dalam KEN harus dibarengi dengan manfaat yang terukur bagi masyarakat lokal, khususnya
pelaku UMKM.

“Yang paling penting adalah bagaimana event ini memberikan dampak kepada masyarakat lokal dan UMKM,” katanya.

Baca juga: Lantai Lokasi FDS Dicat Ulang, Bupati YW: Jangan Ludah Pinang dan Buang Sampah Sembarangan

Menurut Luh Enik, dampak tersebut penting untuk memperkuat posisi FDS agar dapat kembali masuk dalam kalender KEN pada 2027.

Selain itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi Papua bersama pemerintah kabupaten dan kota menyusun kalender festival secara terpadu. Dengan begitu, berbagai kegiatan budaya dan pariwisata di Papua dapat saling terhubung dan menjadi pilihan perjalanan bagi wisatawan.

“Jadi wisatawan bisa menikmati berbagai kekayaan budaya Papua dalam satu perjalanan,” jelasnya.

 

Wisatawan Jangan Hanya Jadi Penonton

Luh Enik juga mendorong perubahan konsep festival dari sekadar tontonan menjadi pengalaman budaya.

Wisatawan yang datang ke FDS, kata dia, sebaiknya tidak hanya menyaksikan atraksi dari kejauhan, tetapi diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat.

Pengalaman itu dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti mengikuti proses pangkur sagu, memutar papeda, belajar membuat noken hingga mencari ulat sagu.

Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya melihat budaya Papua, tetapi ikut merasakan kehidupan dan tradisi masyarakat.

“Ketika wisatawan ikut terlibat, mereka akan mendapatkan pengalaman yang lebih mendalam dan membawa cerita tentang Papua ketika kembali ke daerah asalnya,” ujarnya.

Konsep wisata berbasis pengalaman tersebut dinilai dapat memperkuat hubungan antara wisatawan dan masyarakat lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Karena itu, FDS XV 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan budaya, tetapi menjadi ruang bersama untuk melestarikan tradisi, menggerakkan ekonomi masyarakat, memperkuat UMKM dan memperluas peluang pariwisata Papua.

Laporan: Sonny Rumainum

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *