GAMKI Jayapura Minta Aparat Bedakan Pendemo dan Jurnalis Saat Kawal Aksi

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Irfan | Nampak Dani Yoku, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GAMKI Kabupaten Jayapura. 

Sentani, jurnalmamberamofoja.com Ketua DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Jayapura, Daniel Yoku meminta aparat keamanan, baik TNI maupun Polri, dapat membedakan peserta aksi penyampaian aspirasi dengan wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.

banner 325x300

Permintaan tersebut disampaikan Daniel Yoku menyusul adanya sorotan terkait dugaan intimidasi terhadap wartawan saat melakukan peliputan aksi demonstrasi di Papua.

Menurut Daniel, wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai berbagai peristiwa yang terjadi, termasuk aksi penyampaian aspirasi.

“Perlu kita bedakan mana pendemo, mana yang wartawan bertugas untuk meliput,” ujar Daniel Yoku dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (14/8/2026).

Tokoh Pemuda Adat Tabi asal Sentani, Kabupaten Jayapura ini menegaskan, kerja jurnalistik tidak dapat disamakan dengan aktivitas massa yang mengikuti aksi. Karena itu, ia meminta aparat keamanan memberikan ruang yang aman bagi wartawan untuk menjalankan tugas peliputan.

“Kalau kalian punya kegiatan tanpa liputan, kalian sama sekali tidak jalankan kegiatan,” katanya.

Baca juga: Jelang Aksi KNPB, GAMKI Dukung Imbauan Bupati Jayapura, Masyarakat Diminta Tidak Terlibat Aksi yang Memicu Keresahan

Daniel Yoku menilai keberadaan wartawan dan media sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Melalui pemberitaan, masyarakat dapat mengetahui perkembangan serta situasi yang terjadi di lapangan.

Karena itu, ia meminta aparat keamanan tidak melakukan tindakan intimidatif maupun kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas.

“Pengamanan, ya tugasnya amankan saja. Jangan kita lagi brutal,” tegasnya.

Minta Aparat Profesional dan Humanis

Dani Yoku juga mengingatkan aparat keamanan agar tetap profesional dalam mengawal setiap aksi penyampaian aspirasi.

Menurutnya, polisi dan TNI memiliki tugas menjaga keamanan, sementara masyarakat memiliki hak menyampaikan pendapat melalui jalur yang tersedia.

“Polisi sudah profesional, jalankan tugas saja. Memang tugas ini berat, tetapi dengan hati yang tenang,” ujarnya.

Ia menilai tindakan kekerasan dalam proses pengamanan justru berpotensi meningkatkan ketegangan di lapangan.

“Kalau keamanan sudah brutal, siapapun manusia yang berdiri di situ pasti ikut brutal juga,” katanya.

Karena itu, Dani mengajak masyarakat dan aparat keamanan untuk saling menghargai serta menjalankan peran masing-masing secara bertanggung jawab.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang hendak menyampaikan aspirasi agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban serta tidak mudah terprovokasi.

“Apapun pendapat atau penyampaian aspirasimu, silakan disalurkan pada tempatnya,” ujarnya.

Dani harap setiap aksi penyampaian aspirasi di Papua dapat berlangsung secara damai, tertib dan bermartabat. Ia juga meminta aparat memberikan ruang kepada wartawan untuk melakukan peliputan tanpa intimidasi.

“Tidak ada yang lebih hebat di mata Tuhan. Kita semua sama, saling menghargai dalam tugas. Lakukanlah pekerjaan dan tugas dengan baik,” katanya.

Di akhir keterangannya, Dani ajak seluruh masyarakat Papua untuk terus mempertahankan budaya saling mengasihi, menolong, menghormati dan menghargai meskipun terdapat perbedaan pandangan.

“Budaya kita itu budaya yang paling hebat; yakni saling mengasihi, saling menolong, saling menghormati dan menghargai. Maka itu, mari kita tunjukkan itu,” pungkasnya.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *