Orang Tua Kecewa, Korban MBG Depapre Dipulangkan Saat Masih Muntah dan Diare

banner 120x600
banner 468x60
Spread the love

Foto: Irfan | Nampak Yanti, Siswi Kelas VI SD YPK Wibro 1 Tablasupa yang diduga menjadi korban keracunan MBG, bersama orang tuanya saat ditemui di kediaman mereka, Jumat (7/8) malam. 

Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Kekecewaan dirasakan Salumi Serontouw, orang tua Yanti, siswi kelas VI SD YPK Wibro 1 Tablasupa, Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

banner 325x300

Salumi mempertanyakan keputusan petugas medis memulangkan putrinya pada Kamis (6/8/2026), sementara menurutnya kondisi Yanti belum sepenuhnya pulih setelah diduga menjadi salah satu korban gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Salumi mengatakan, saat Yanti masih menjalani perawatan di posko penanganan korban, dirinya sempat keluar untuk membeli makanan. Ketika kembali, ia mendapati infus yang terpasang pada putrinya telah dilepas.

“Saya kaget karena infus anak saya sudah dilepas. Biasanya sebelum pasien dipulangkan, keluarga diberitahu terlebih dahulu,” ujar Salumi saat ditemui wartawan di kediamannya di Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Jumat (7/8/2026) malam.

Menurutnya, petugas medis menyampaikan bahwa Yanti sudah diperbolehkan pulang karena dinilai tidak lagi memiliki keluhan.

Namun, Salumi mengaku putrinya masih mengalami sejumlah gejala, seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, tubuh lemas, dan nafsu makan yang menurun.

“Petugas bilang itu mungkin efek malaria karena anak saya juga dinyatakan positif malaria tropika. Tetapi saya sampaikan bahwa dia juga korban MBG dan kondisinya belum benar-benar sembuh,” katanya.

Yanti sebelumnya mengonsumsi makanan MBG di sekolah pada Selasa (4/8/2026). Setelah itu, ia mulai mengeluhkan sakit perut.

Karena kondisi Puskesmas Depapre saat itu penuh, keluarga kemudian membawa Yanti ke Puskesmas Dosay untuk mendapatkan pemeriksaan. Setelah mendapat obat pereda nyeri, Yanti diperbolehkan pulang.

Tampak Salumi Serontouw dan Yanti anaknya
Tampak Salumi Serontouw dan Yanti anaknya.

Baca juga: Evaluasi Total MBG di Jayapura, Pemerintah Pastikan Keamanan dan Kualitas Makanan

Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada malam harinya, Yanti mengalami demam tinggi disertai menggigil.

Keluarga kemudian membawanya kembali ke Puskesmas Depapre hingga akhirnya mendapatkan perawatan di posko penanganan korban MBG.

“Hasil pemeriksaan darah menunjukkan anak saya positif malaria tropika. Selain itu, dia juga menjadi korban MBG. Sejak Selasa malam dirawat di posko, mendapat infus dan pengobatan,” tutur Salumi.

Namun, pada Kamis, petugas medis menyatakan Yanti sudah dapat dipulangkan untuk melanjutkan pemulihan di rumah.

Salumi mengaku tetap mengikuti keputusan tersebut, meski merasa kondisi anaknya belum pulih sepenuhnya.

“Saya sangat menyayangkan karena menurut saya kondisinya belum pulih seratus persen,” ujarnya.

Kekhawatiran Salumi semakin bertambah ketika dalam perjalanan dari Depapre menuju Sentani, kondisi Yanti kembali memburuk.

Menggunakan sepeda motor, mereka dalam perjalanan pulang menuju Kampung Harapan ketika Yanti mengalami muntah sebanyak empat kali dengan cairan berwarna hijau kekuningan.

Sesampainya di rumah, kondisi Yanti juga belum membaik. Ia masih mengalami diare, sakit kepala dan pusing. Nafsu makannya pun belum kembali normal karena perut masih terasa sakit.

“Kondisinya masih sakit kepala, masih pusing dan masih diare. Makannya sedikit karena perutnya masih sakit. Kami kembali membawa dia ke puskesmas untuk diperiksa lagi,” kata Salumi.

Saat ditanya makanan MBG yang dikonsumsinya pada Selasa (4/8/2026), Yanti mengaku menghabiskan nasi, tempe, telur dan sayur. Sementara potongan semangka yang disediakan tidak dimakannya.

Salumi berharap seluruh anak yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG mendapat perhatian dan penanganan medis hingga kondisi mereka benar-benar pulih.

Ia memahami tenaga kesehatan menghadapi jumlah pasien yang cukup banyak. Namun, menurutnya, kondisi setiap anak tetap perlu dipastikan sebelum keputusan pemulangan dilakukan.

“Saya tahu tenaga kesehatan juga kelelahan karena pasien sangat banyak. Tetapi harapan saya semua anak diperhatikan sama rata. Jangan dipulangkan sebelum benar-benar sembuh,” tegasnya.

Baca juga: Korban Bertambah, Orang Tua Murid Desak MBG di Pesisir Tanah Merah Dihentikan

Menurut Salumi, pemulangan pasien yang masih mengalami keluhan justru dapat menambah beban keluarga karena orang tua harus kembali membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila kondisi memburuk.

“Kalau pulang masih sakit, orang tua harus bolak-balik mengurus lagi. Harapan saya anak-anak korban MBG benar-benar dipastikan pulih dan sembuh sebelum dipulangkan. Ini menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak,” pungkasnya.

Ia juga meminta pemerintah bersama tim medis melakukan evaluasi terhadap penanganan para korban dugaan keracunan MBG, termasuk memastikan keselamatan dan kondisi kesehatan anak sebelum mereka diperbolehkan kembali ke rumah.

Keluarga berharap kondisi Yanti segera membaik sehingga dapat kembali beraktivitas dan mengikuti proses belajar di sekolah seperti sedia kala.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait yang dihubungi wartawan melalui WhatsApp maupun telepon seluler belum memberikan tanggapan.

Laporan: M. Irfan

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *