Foto: Andre | Tampak ketua panitia Rapat, Ondofolo Homfolo Anderson Tokoro didampingi Jhon Viktor Monim, Ondofolo Putali ketika memberikan keterangan pers, Jumat (24/7) di kampung Hobong usai kegiatan.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Dewan Adat Suku Sentani menggelar Rapat Besar sebagai wadah memperkuat persatuan masyarakat adat, melestarikan nilai-nilai budaya, serta merumuskan langkah strategis dalam menjaga hak ulayat dan masa depan generasi Sentani.
Kegiatan yang berlangsung di Kampung Hobong, Kabupaten Jayapura, Jumat (24/7/2026), dihadiri para ondofolo, kepala suku, tokoh masyarakat, perwakilan Pemerintah Kabupaten Jayapura, Anggota DPR Papua Frangklin Wahei,S.Sos.,MKP., dan Cecilia Novani Mehue, anggota MRP Pokja Agama Dorince Mehue, SE., intelektual Sentani Prof. Dr. Fredrik Sokoy, S.Sos., M.Si., serta perwakilan masyarakat dari berbagai kampung di wilayah adat Sentani.
Rapat diawali dengan prosesi adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Mewakili Ketua Dewan Adat Suku Sentani, Ondofolo Yanto Eluai menegaskan bahwa rapat besar tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan persepsi seluruh masyarakat adat dalam menghadapi dinamika pembangunan tanpa mengabaikan nilai-nilai adat yang telah menjadi identitas masyarakat Sentani.
“Dewan Adat adalah payung kita bersama. Melalui rapat besar ini kita menyatukan langkah untuk melestarikan budaya Sentani, menjaga hak-hak masyarakat adat, serta mempertahankan batas-batas wilayah adat agar tetap terlindungi,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, peserta membahas sejumlah agenda strategis, di antaranya penguatan struktur dan keanggotaan Dewan Adat Sentani agar semakin representatif, penyusunan program pelestarian bahasa, budaya, dan tradisi bagi generasi muda, perlindungan wilayah adat beserta sumber daya alamnya, serta membangun sinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang menghormati hak-hak masyarakat adat.
Seluruh peserta rapat menyatakan dukungan terhadap berbagai keputusan yang dihasilkan. Mereka menilai lembaga adat memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat, mencegah konflik, sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan yang berkeadilan.

Baca juga: Tokoh Adat Jayapura Tolak Manuver Ganti Ketua DPRK, Ruddy Bukanaung Diminta Tetap Menjabat
Ketua Panitia Rapat Besar, Ondofolo Homfolo Anderson Tokoro, yang didampingi Ondofolo Putali Jhon Viktor Monim, menegaskan bahwa hasil rapat tidak boleh berhenti sebagai kesepakatan di atas kertas, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Kita harus mewariskan nilai-nilai yang baik kepada anak cucu. Jangan sampai identitas dan jati diri orang Sentani hilang karena perkembangan zaman,” kata Anderson.
Ia juga menyoroti pentingnya pengkaderan generasi muda Tabi, khususnya anak-anak Sentani, agar memiliki kapasitas menjadi pemimpin di tanah kelahirannya sendiri, baik sebagai gubernur,
bupati, maupun pemimpin di berbagai bidang.
Menurut Anderson, masyarakat Tabi saat ini menghadapi tantangan serius berupa minimnya regenerasi kepemimpinan akibat masih adanya sikap saling tidak percaya di antara sesama.
“Karena itu, melalui rapat besar ini kami berkomitmen membangun persatuan. Sudah saatnya kita meninggalkan ego dan bersama-sama mempersiapkan generasi penerus yang mampu memimpin negeri ini. Dengan persatuan, kita dapat menjemput perubahan yang lebih baik,” tegasnya.
Rapat Besar Dewan Adat Suku Sentani ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat gotong royong, menjaga persatuan, melindungi hak-hak masyarakat adat, serta melestarikan budaya Sentani sebagai warisan yang harus terus dijaga demi masa depan generasi Tabi.
Laporan: Andre Fonataba

















