Foto: istimewa | Tampak Pdt. Beatriks Nibaely, S.Th., bersama Bupati Sorsel, Petronela Krenak,S.Sos., yang juga Ketua FGM GKI di Tanah Papua serta para majelis Jemaat GKI Elim Elles, Klasis Sawiat, Minggu (5/7).
Sorong Selatan, jurnalmamberamofoja.com – Ibadah awal bulan Juli di Jemaat GKI Elim Elles, Klasis GKI Sawiat, Kabupaten Sorong Selatan, Minggu (5/7/2026), berlangsung penuh sukacita dan kekhidmatan. Momen tersebut menjadi semakin bermakna dengan dilaksanakannya penyerahan Surat Keputusan (SK) penempatan Pelayan Firman kepada Pdt. Beatriks Nibaely, S.Th.
Penyerahan SK yang disaksikan seluruh jemaat menjadi penanda dimulainya tugas pelayanan baru bagi Pdt. Beatriks Nibaely sekaligus memperkuat komitmen gereja dalam menghadirkan pelayanan Firman Tuhan yang semakin bertumbuh, relevan, dan membawa berkat bagi umat.
Dalam khotbahnya, Pdt. Beatriks Nibaely mengajak seluruh jemaat untuk tetap setia pada panggilan Tuhan serta senantiasa waspada dalam menjalankan kehidupan maupun pelayanan di mana pun Tuhan menempatkan setiap orang.
Ia mengangkat kisah Ratu Ester sebagai teladan iman yang menunjukkan ketaatan, keberanian, kesetiaan, dan kerelaan dipakai Tuhan demi keselamatan umat-Nya.
“Marilah kita tetap setia dan waspada di tempat Tuhan menempatkan kita. Belajarlah dari keteladanan Ratu Ester yang tetap teguh dalam iman dan pengabdiannya,” pesannya di hadapan jemaat.
Melalui penempatan Pelayan Firman yang baru ini, diharapkan kehidupan rohani warga Jemaat GKI Elim Elles semakin bertumbuh, ikatan persaudaraan antarjemaat semakin kuat, serta pelayanan gereja mampu menjawab berbagai tantangan sosial di tengah masyarakat.
Usai ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama para tokoh adat yang membahas sejumlah persoalan adat yang berkembang di wilayah tersebut. Salah satu agenda utama ialah mekanisme penyelesaian pembayaran harta adat sebagai bagian dari tradisi yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.
Pembahasan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dengan mengedepankan musyawarah dan saling menghormati. Seluruh peserta sepakat bahwa nilai-nilai adat warisan leluhur harus terus dijaga sebagai fondasi kehidupan sosial masyarakat.
Baca juga: Di Tepi Kali Jomsidin, Ibadah Paskah Jemaat GKI Mubarok Hadirkan Damai dan Makna Pengorbanan Kristus
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum memperkuat sinergi antara gereja, pemerintah, dan lembaga adat sebagai tiga pilar penting dalam menjaga persatuan, menciptakan kedamaian, serta mendukung pembangunan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan dan kearifan lokal.
Kolaborasi yang harmonis antara ketiga unsur tersebut diharapkan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemasyarakatan secara adil, bijaksana, dan mengutamakan kepentingan bersama sehingga tercipta kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera.
Ibadah dan pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Forum Generasi Muda (FGM) GKI di Tanah Papua, Penatua Petronela Krenak yang juga merupakan Majelis Jemaat.
Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh jemaat untuk terus menjaga semangat pelayanan, persaudaraan, dan kebersamaan.
“Tuhan memberkati setiap pelayanan dan kebersamaan yang dibangun dalam semangat iman, persaudaraan, serta penghormatan terhadap adat istiadat. Kiranya seluruh pelayanan di daerah ini terus menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelayanan gereja tidak hanya berorientasi pada pembinaan iman, tetapi juga berperan aktif membangun keharmonisan sosial melalui kolaborasi yang erat dengan pemerintah dan lembaga adat demi mewujudkan masyarakat yang rukun, damai, dan sejahtera.
Laporan: Sony Rumainum

















