Foto: istimewa |Nampak Victor Mambor, Pimpinan Umum PT. Media Jubi Papua.

Jayapura, jurnalmamberamofoja.com – Jurnalis Orang Asli Papua (OAP) didorong untuk tampil sebagai aktor utama dalam menyampaikan informasi tentang Tanah Papua, mulai dari potensi sumber daya alam, persoalan sosial, hingga arah pembangunan masa depan daerah.
Dorongan tersebut disampaikan Pemimpin Umum PT Media Jubi Papua, Victor Mambor, saat menjadi narasumber Workshop “Pitching yang Menjual: Cara Meyakinkan Sponsor Potensial” dalam rangkaian Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire, Rabu (14/1/2026).
Mambor menegaskan, sudah saatnya jurnalis lokal keluar dari posisi pinggiran.
Menurutnya, pemberitaan tentang Papua masih didominasi media dari luar daerah, padahal anak-anak Papua memiliki legitimasi, kedekatan sosial, dan pemahaman budaya yang jauh lebih kuat.
“Kita orang Papua ini sebenarnya pemain utama. Jangan terus tenggelam dalam mental ‘harap gampang’. Kita harus percaya diri dan berani tampil sebagai sumber utama informasi tentang Papua,” tegasnya.
Ia mencontohkan sektor kehutanan yang menjadi salah satu kekuatan strategis Papua. Secara nasional, Papua tercatat sebagai tiga besar wilayah dengan hutan terluas di Indonesia.
Namun ironisnya, liputan mendalam tentang kehutanan, lingkungan hidup, dan dampaknya terhadap masyarakat adat justru lebih banyak diproduksi media luar Papua.
“Papua ini tiga besar potensi hutan, tapi liputan soal hutan hampir tidak pernah dibuat oleh anak Papua sendiri. Padahal kita hidup di sini dan melihat langsung dampaknya. Kita harus jadi pemain di tanah sendiri, jadi tuan di negeri sendiri,” ujarnya.
Mambor juga menyoroti sejumlah tantangan internal yang masih dihadapi jurnalis Papua.
Baca juga: Apresiasi untuk Festival Media Papua, Pers Diminta Jaga Etika dan Independensi
Mulai dari rendahnya kepercayaan diri, lemahnya jejaring profesional, hingga keterbatasan kemampuan mengemas ide liputan menjadi proposal yang menarik bagi sponsor dan mitra pendanaan.
Ia menekankan, jurnalis tidak hanya dituntut mampu menulis berita, tetapi juga harus piawai mempresentasikan gagasan liputan yang bernilai, berdampak, dan kredibel.
“Kalau mau dapat apple, kita juga harus apple. Kalau mau pancing ikan besar, umpannya juga harus besar. Tidak mungkin pakai umpan kecil mau dapat ikan hiu,” katanya.
Selain aspek teknis, Mambor turut mengkritisi sikap internal sebagian jurnalis Papua, seperti mental manja, rendahnya daya juang, serta kurangnya solidaritas antar sesama jurnalis.
Menurutnya, tanpa kekompakan, jurnalis lokal akan sulit berkembang dan bersaing di tingkat regional maupun nasional.
“Kita harus kompak, saling tolong, jangan saling jatuhkan. Kalau ada teman mau liputan, bantu supaya bisa sampai ke narasumber. Dari situ kualitas liputan naik dan kepercayaan publik ikut meningkat,” tegasnya.
Baca juga: Festival Media Se-Tanah Papua Resmi Dimulai, Nabire Jadi Titik Konsolidasi Pers Papua
Ia berharap Festival Media Se-Tanah Papua terus digelar secara berkelanjutan sebagai ruang peningkatan kapasitas, penguatan jejaring, dan konsolidasi media lokal.
Dengan jurnalis Papua yang semakin profesional, solid, dan percaya diri, Mambor optimistis narasi tentang Papua ke depan akan lebih berimbang, berbasis realitas lokal, serta benar-benar mencerminkan suara rakyat Papua.
Laporan: Sony Rumainum

















