Foto: Irfan | Tampak Dr. Kristhina L. Mano, S.IP., M.AP., Pembina UMKM Keratai Socakab dan Sicakab ketika memberikan keterangan pers kemarin, Sabtu malam (29/8) di Lokasi Festival, Pantai Khalkote.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com — Pembina UMKM Keratai Socakab Sicakab, Dr. Kristhina R.I.L. Mano, S.IP., M.AP., meminta pemerintah dan panitia Festival Danau Sentani (FDS) XV memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat asli di sekitar lokasi festival.
Menurut Kristhina, masyarakat asli harus menjadi bagian penting dalam kegiatan budaya sekaligus perputaran ekonomi yang berlangsung dalam FDS, bukan hanya sebagai penonton.
Hal itu disampaikan Kristhina saat ditemui dalam rangkaian kegiatan FDS XV di Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (29/8/2026).
“Kami berharap ke depan disiapkan tempat untuk masyarakat asli yang ada di sini, sehingga mereka juga bisa mengambil bagian. Walaupun jualan mereka mungkin sama, seperti noken, papeda, dan pinang, tetapi kami berharap mereka juga ada di dalam sini,” katanya.
Ia menilai, keterlibatan langsung masyarakat asli di lokasi utama festival penting untuk memastikan kesempatan ekonomi dapat dirasakan secara merata. Selain itu, warga akan merasa memiliki dan menjadi bagian dari pesta budaya yang digelar di daerah mereka sendiri.
“Mereka juga merasa bahwa sebagai orang di sini, mereka dikasih kesempatan untuk hadir dalam pesta budaya besar ini,” ujarnya.
UMKM Hadir Meramaikan FDS
Kristhina menjelaskan, UMKM Keratai Socakap Sicakap yang ikut dalam FDS merupakan perkumpulan keluarga para mantan camat yang pernah bertugas di wilayah Kabupaten Jayapura.
Saat para mantan camat tersebut bertugas, Kabupaten Jayapura masih memiliki 24 distrik. Seiring pemekaran wilayah, sebagian wilayah tersebut kini menjadi bagian dari kabupaten dan kota lainnya.
Ia menegaskan, kehadiran kelompoknya dalam FDS bukan semata-mata mengejar keuntungan, tetapi sebagai bentuk kebersamaan dan apresiasi terhadap masyarakat Kabupaten Jayapura.
“Kehadiran kami di sini yang pertama adalah untuk memeriahkan. Kami merasa bahwa Festival Danau Sentani ini bagian dari masyarakat yang membesarkan kami di Kabupaten Jayapura,” katanya.
Sejumlah produk lokal dan olahan rumah tangga ditampilkan di stan mereka, mulai dari pisang goreng, singkong goreng, keripik pisang, sagu, mi sagu hingga beras berbahan sagu.
Kristhina mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada pelaku UMKM untuk berpartisipasi dalam FDS dan berharap keterlibatan tersebut dapat berlanjut hingga pelaksanaan puncak festival.
Dorong Produk Lokal Naik Kelas
Ia juga meminta pemerintah memberikan perhatian berkelanjutan kepada pelaku UMKM, bukan hanya selama festival berlangsung.
Menurutnya, pengembangan UMKM dapat membuka peluang peningkatan pendapatan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.
“UMKM yang mengikuti festival ini kami berharap diperhatikan oleh pemerintah sehingga mereka juga dapat mengembangkan UMKM masing-masing. Dengan berkembangnya UMKM, ekonomi keluarga mereka juga akan meningkat,” katanya.
Kristhina menilai produk lokal Kabupaten Jayapura memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan dikemas secara lebih menarik agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satunya adalah kopi dari wilayah Grime, Genyem, yang menurutnya memiliki potensi untuk diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.
“Kami juga punya kopi. Kopi itu sebenarnya dari Kabupaten Jayapura, dari wilayah Genyem, dari Grime. Kami berharap kopi itu juga bisa dirasakan oleh orang lain,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk terus percaya pada potensi sumber daya lokal Papua dan mengembangkannya melalui UMKM serta ekonomi kreatif.
“Kita harus percaya bahwa tanah kita ini subur, kita juga bisa berbuat seperti yang lain. Tetap semangat untuk memacu,” katanya.
Minta Akses UMKM Diperbaiki
Selain keterlibatan masyarakat asli, Kristhina juga menyoroti akses bagi pelaku UMKM dalam mengangkut barang dagangan ke lokasi festival.
Ia mengatakan, pengaturan lalu lintas di sekitar area FDS membuat peserta UMKM terkadang kesulitan membawa barang masuk ke lokasi.
Karena itu, ia mengusulkan adanya tanda khusus berupa stiker kendaraan bagi peserta UMKM sehingga akses keluar-masuk dapat lebih mudah tanpa mengganggu pengaturan lalu lintas.
“Mungkin satu peserta UMKM punya satu stiker atau dua stiker, supaya kami punya akses. Misalnya stiker nama di kendaraan, sehingga ketika kami membawa barang-barang, kami juga bisa masuk dengan baik,” katanya.
Pemimpin Diminta Dekat dengan Masyarakat
Kristhina juga mengapresiasi para pemimpin daerah yang menyempatkan diri mengunjungi stan UMKM selama festival. Menurutnya, interaksi langsung antara pejabat dan masyarakat dapat membangun kedekatan sekaligus memberikan rasa dihargai.
“Kalau datang menyapa masyarakat, apalagi belanja, pasti senang sekali sebagai masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap FDS menjadi ruang yang mampu mempertemukan pemerintah dengan masyarakat tanpa sekat.
“Kami berharap dengan festival ini jangan ada gap antara pejabat dan masyarakat. Pejabat memang di kantor, tetapi ketika datang ke sini harus menyatu dengan masyarakat supaya masyarakat juga senang dan bangga,” katanya.
Kristhina kembali menegaskan bahwa keikutsertaan kelompoknya dalam FDS lebih mengutamakan kebersamaan daripada keuntungan ekonomi.
“Kami tidak mencari keuntungan di sini. Kami hadir hanya untuk meramaikan. Yang penting kebersamaan,” tegasnya.
Ia berharap penyelenggaraan FDS pada tahun-tahun mendatang semakin baik, terutama dalam memberikan ruang bagi masyarakat asli, memperkuat UMKM, serta mengembangkan ekonomi kreatif lokal agar produk masyarakat Kabupaten Jayapura semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Laporan: M. Irfan


















