Foto: istimewa | Tampak penyerahan hadiah lomba kepada sejumlah perwakilan peserta oleh Wakil Ketua DPR Papua Herlin Beatrix Monim, SE., MM., dan Asisten I Setdakab Jayapura, Gilbert Yakwart, S.STP., M.KP., Sabtu (29/8) di Khalkote.
Sentani, jurnalmamberamofoja.com – Sanggar Tari Iriani Abepura tampil sebagai yang terbaik dalam Lomba Tari Yosim Pancar pada rangkaian Pra Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026.
Sanggar asal Abepura tersebut berhasil merebut Juara I setelah tampil memukau dalam kompetisi yang diikuti 10 peserta. Pengumuman pemenang disampaikan pada malam penutupan Pra FDS XV di Pantai Wisata Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (29/8/2026).
Dalam perlombaan tersebut, masing-masing sanggar menampilkan kreativitas dan kemampuan terbaik dalam membawakan Tari Yosim Pancar, salah satu tarian khas Papua yang memiliki nilai penting dalam kehidupan seni dan budaya masyarakat.
Penampilan peserta dinilai oleh tiga dewan juri, yakni Drs. Eqberth C. Kopeuw, M.Pd., Jefri Nendisa, dan Albert Runaweri.
Penilaian mencakup unsur wiraga, wirasa, wirama, serta kesesuaian penampilan dengan lima gerak dasar Tari Yosim Pancar yang telah dibakukan oleh Dewan Kesenian Tanah Papua.
Berdasarkan Keputusan Dewan Juri Nomor 002, Sanggar Iriani Abepura mengumpulkan 1.765 poin dan berhak menempati posisi pertama.
Juara II diraih Robongholo dengan nilai 1.742, disusul Cenderawasih Kemiri sebagai Juara III dengan nilai 1.692. Sementara PAM Soar Abeale meraih Juara Harapan I dengan perolehan nilai 1.590.
Baca juga: Raveni Rara Siapkan Mahkota Giok dan Kalung Kasuari, Jadi Andalan di Puncak FDS XV
Kemenangan Sanggar Iriani Abepura menjadi bukti bahwa Tari Yosim Pancar masih mendapat tempat di tengah generasi muda dan komunitas seni Papua.
Kompetisi tersebut sekaligus menjadi wadah bagi para sanggar untuk menunjukkan kreativitas sekaligus menjaga keberlangsungan seni tari tradisional Papua.
Dewan juri berharap hasil perlombaan dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pelatih dan sanggar untuk terus meningkatkan kualitas penampilan tanpa menghilangkan karakter serta nilai budaya yang terkandung dalam Tari Yosim Pancar.
Menurutnya, pengembangan seni tari Papua harus tetap berpijak pada gerak dasar dan karakter asli, sehingga inovasi yang dilakukan tidak menghilangkan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian Pra FDS XV pun tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang pelestarian budaya sekaligus kesempatan bagi generasi muda Papua untuk terus berkarya dan memperkenalkan kekayaan seni Papua kepada masyarakat luas.
Laporan: Sonny Rumainum


















