Foto: Willy / tampak kepala Distrik Iwaso Rony Meob
Kasonaweja, Jurnal Mamberamo Foja – Meski Kabupaten Mamberamo Raya telah berdiri selama 18 tahun sejak 15 Maret 2007, masyarakat di Distrik Iwaso masih menghadapi keterisolasian akibat minimnya infrastruktur transportasi dan telekomunikasi.
Hingga kini, satu-satunya akses menuju distrik tersebut hanya melalui jalur sungai dengan perahu motor yang memakan waktu hingga tiga hari, tergantung kondisi cuaca.
Selain itu, belum adanya jaringan telekomunikasi membuat warga kesulitan berkomunikasi dengan dunia luar, terutama dalam situasi darurat.
Keterisolasian Hambat Pembangunan dan Pelayanan Publik
Kepala Distrik Iwaso, Rony Meob, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Distrik Iwaso di Kasonaweja pada Kamis (21/3), menegaskan bahwa keterbatasan akses ini menjadi kendala utama dalam pelayanan pemerintahan dan pembangunan di wilayah tersebut.
“Dalam Musrenbang tahun ini, kami mengusulkan pembangunan bandara sebagai prioritas utama agar akses keluar-masuk lebih mudah, terutama untuk kebutuhan darurat seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan distribusi logistik. Selama 18 tahun Mamberamo Raya berdiri, Distrik Iwaso masih belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Akibatnya, tidak ada pelayanan pemerintahan yang optimal bagi masyarakat karena akses yang sangat sulit,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini berdampak besar pada kesejahteraan warga. Sulitnya transportasi menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan layanan kesehatan yang layak, mengakses pendidikan yang memadai, serta memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Tidak Ada Jaringan Telekomunikasi, Warga Terputus dari Dunia Luar
Selain keterbatasan transportasi, ketiadaan jaringan telekomunikasi semakin memperparah kondisi masyarakat Iwaso.
Warga tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga di luar distrik, mengakses informasi, maupun meminta bantuan dalam kondisi darurat.
“Selain bandara dan telekomunikasi, masyarakat juga sangat membutuhkan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang layak. Kami berharap usulan ini dapat diakomodir oleh pemerintah daerah agar pelayanan pemerintahan bisa menjangkau masyarakat di sini,” tambah Rony Meob.
Desakan dari DPRK Mamberamo Raya
Desakan serupa juga datang dari Daud Bilasi, anggota DPRK Mamberamo Raya terpilih periode 2025-2030. Ia menilai pemerintah daerah dan pusat harus segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi keterisolasian Distrik Iwaso.
“Sebagai wakil rakyat, saya mendesak Bupati dan Wakil Bupati Mamberamo Raya, yang merupakan putra daerah, untuk lebih memperhatikan pembangunan di Distrik Iwaso. Iwaso adalah bagian dari Mamberamo Raya, dan masyarakat di sana berhak mendapatkan akses transportasi yang layak serta jaringan telekomunikasi yang mendukung peningkatan kualitas hidup mereka,” tegasnya.
Kondisi Geografis yang Menantang
Distrik Iwaso terdiri dari tiga kampung, yakni Metaweja, Babija, dan Swasakwesar. Untuk mencapai ibu kota distrik dari ibu kota kabupaten, hanya ada dua opsi transportasi: jalur udara menggunakan helikopter atau jalur sungai dengan waktu tempuh hingga tiga hari yang penuh risiko.
Kondisi ini membuat berbagai program pembangunan sulit dijalankan, menghambat pertumbuhan ekonomi, serta mempersulit akses pendidikan dan kesehatan.
Dengan tuntutan yang semakin kuat dari masyarakat dan DPRK, kini bola ada di tangan pemerintah daerah dan pusat untuk merealisasikan solusi nyata bagi Distrik Iwaso.
Laporan: Willy

















